Editor : Martin Simamora, S.IP |Martin Simamora Press

Selasa, 20 Juli 2010

Peran e-Government Dalam Mengatasi Krisis Finansial Global (Bagian 6) : Transparansi Vs Kerahasiaan Dan Kebijakan Yang Munafik


Esensi krisis finansial yang masih berlangsung saat ini adalah kelemahan kapabilitas kontrol yang sangat besar terhadap inovasi produk di sektor finansial. Dan sebagai akibatnya, aktivitas finansial menjadi sangat kompleks dan menjadi penyebab berbagai kegagalan regulator melakukan peran kontrol, untuk mampu mengikuti inovasi dan kompleksitas sektor finansial.


Sebelumnya :

+ Bagian 1
+ Bagian 2
+ Bagian 3
+ Bagian 4
+ Bagian 5
Misal : proliferasi pasar-pasar uang untuk produk derivatif atau metode-metode baru untuk mengelola hipotek. Solusi e-Government dapat memainkan peran yang sangat penting di sektor finansial sebab dapat menciptakan transparansi yang lebih besar atau kecepatan yang lebih unggul, yang memampukan pemerintah untuk membentuk dasar yang lebih kokoh dan responsif untuk membuat kebijakan atau untuk memutuskan : apakah pemerintah perlu atau tidak melakukan intervensi pada operasi-operasi bank tertentu.

Akan tetapi transparansi yang ditawarkan oleh e-Government dalam pelaksanaan dilapangan sangat bertentangan dengan praktek-praktek aktivitas keuangan yang sangat kompetitif, sebagaimana yang didemonstrasikan keuangan moderen. Para pelaku keuangan di pasar uang yang moderen dan kompleks ini lebih menyukai untuk tetap menjaga rahasia-rahasia bisnisnya, ketimbang mengungkapkannya sebagai informasi publik.

Beberapa elemen telah dituding sebagai tidak akurat atau tidak transparan, termasuk evaluasi-evaluasi resiko yang dilakukan oleh lembaga-lembaga pemeringkat, penciptaan berbagai "kendaraan" investasi terstruktur, dan pembuatan berbagai produk-produk keuangan derivatif lainnya yang ditawarkan oleh banyak hedge fund dan bank.

Bagi para penyedia produk-produk keuangan, aspek-aspek non transparan justru memberikan daya kompetisi, dan bahkan kerap didukung oleh pemerintah dan regulator atas nama "berbagi resiko". Pengejaran terhadap peluang-peluang investasi berorientasi pada keuntungan tinggi mendapat dukungan penuh dari arus masuk kapital asing dalam jumlah, masif, dan tingkat suku bunga rendah dalam jangka waktu yang panjang yang telah berlangsung hampir satu dekade.

Sebaliknya, faktor-faktor ini telah mendorong para pelaku keuangan untuk mengejar pengambilan keuantungan, sekalipun ada resiko-resiko yang tidak mereka pahami sepenuhnya. Jadi, mereka yang disebut ahli pun tidak dapat mengelola berbagai resiko secara efektif dan bahkan sering tidak dapat mendefiniskan dan mengukur resiko-resiko secara eksplisit.

Jenis-jenis resiko yang digambarkan diatas tersebut berakar di dalam sistem finansial, dalam hal ini permasalahannya bersifat sistemik. "Resiko Sistemik" dalam hal ini merujuk kepada resiko-resiko yang dikaitkan dengan membesarnya operasi-operasi pada level "sistem-sistem" makro, seperti; sistem finansial atau sistem perdagangan internasional di tingkat nasional.

"Cross-systemik risk" mengacu kepada resiko-resiko yang berhubungan dengan berbagai konflik yang terjadi diantara komponen-komponen finansial yang substansial, seperti hambatan-hambatan yang ada antara sistem finansial dan teknologi atau sistem industrial.

Mengacu pada sumber resiko sistemik yang terjadi di dalam sektor finansial global baru-baru ini, ada berbagai sudut pandang. Para ahli yang berada di dalam sektor keuangan menyatakan bahwa penyebab krisis ditimbulkan oleh diskontinuitas dalam pasar keuangan.

Diskontinuitas atau cegukan seius di pasar keungan, menurut para ahli, diakibatkan oleh "respon alami manusia yang menghasilkan persinggungan antara euphoria dan ketakutan dan dianggap semata sebagai sebuah addendum yang hanya bersifat peripheral terhadap siklus bisnis dan model keuangan. Hal ini menguatkan klaim bahwa peristiwa-peristiwa yang memiliki kemungkinan terjadi yang rendah disebabkan oleh "semangat hewan" yang ada didalam manusia, misal dalam konteks tidak belajar pada resiko-resiko terdahulu yang berkait dengan model-model econometric : "rational expectations", model-model ini hancur dalam prakteknya.

Dengan kata lain, seperti dikemukakan oleh Milton Friedman : Keruntuhan sistemik dipicu oleh serangkaian peristiwa kehancuran.


~bersambung~

(Martin Simamora)


Tidak ada komentar:

Corruption Perceptions Index 2018

Why China is building islands in the South China Sea

INDONESIA NEW CAPITAL CITY

World Economic Forum : Smart Grids Explained

Berita Terbaru


Get Widget