Editor : Martin Simamora, S.IP |Martin Simamora Press
Tampilkan postingan dengan label KTP NIK Nasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KTP NIK Nasional. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 September 2015

Buku : Managing Catastrophic Loss of Sensitive Data: A Guide for IT and Security ...

Cek Status NIK Pada www.dukcapil.kemendagri.go.id Tidak Berfungsi




Tidak dapat diketahui sejak  kapan “cek status NIK” pada situs resmi kemendagri  ini tak berfungsi baik, namun, saat penulis memasukan data NIK, tidak mengeluarkan informasi yang diharapkan, sebagaimana diperlihatkan melalui salinan gambar di bawah ini:


Padahal database NIK ini, digambarkan  canggih sebagaimana situs kemendagri.go.id menyatakannya:
Karena kerahasiaan data, penjagaan ruang database ini cukup ketat. Untuk masuk, pengunjung harus melewati dua pintu. Setiap pintu dipasang kunci otomatis dengan sistem finger print. Hanya petugas yang sidik jari sudah direkam yang bisa membuka ini. Dua orang petugas keamanan juga berjaga setiap saat di belakang daun pintu.

Pusat database sendiri terdapat dalam ruangan khusus berukuran 9x10 meter persegi. Belasan lemari kabinet setinggi dua meter berjejer dipenuhi server dengan lampu yang kedap-kedip. Untuk menjaga server bekerja normal, suhu ruangan diatur maksimal 23 derajat celcius.

Rabu, 06 Juni 2012

China Launches Automatic Fingerprint ID System

A database of up to 50 million fingerprints can now be housed in a new Automatic Fingerprint Identification System (AFIS) recently deployed by Public Safety Authority in China’s Anhui Province to help reduce its criminal investigations. In partnership with NEC Corporations, the AFIS, the largest of its kind in China can help increase the hit rate on latent fingerprint inquiries by tenfold.

Jumat, 02 Maret 2012

CARTES in Asia to Showcase Government Identity Technology

The convergence of biometrics, global operational standards and the integration of public and private services are forging government identity technology ahead in the Asia Pacific region. Identity technology developers and government decision makers at CARTES in Asia conference and exhibition on 28 and 29 March will be able to see and hear about new developments in this sector. On the second day of the exhibition, there will be a full day dedicated to ID Management and e-Government covering innovations, privacy and security issues.

With a population that reaches nearly four billion, the biometric identity industry has been going from strength to strength in Asia Pacific. In the last couple of years countries in South East Asia such as Brunei, Cambodia, Indonesia, Malaysia, Myanmar, Philippines, Singapore, Thailand and Vietnam have embraced technologies such as ePassports, eIDs and eVisas in a bid to communicate with their people and protect their identities. Vietnam is due to issue its first electronic passport by the end of this year and by 2014 the Philippines is expected to be the world’s sixth-largest issuer of ePassports, behind India, the US, Brazil, and Britain.
In order to facilitate interoperability across countries, the ICAO (International Civil Aviation Organization) has introduced e-passport standards: Basic Access Control (BAC) and then Supplemental Access Control (SAC). These new security standards are designed to help countries migrate from traditional paper-based travel documents and protect the passport’s data confidentiality, integrity and anti-cloning.

Isabelle Alfano, Director of CARTES events, Comexposium, said: “A new era of government biometric technology is upon us here in Asia Pacific and across the world. The concept is also changing with more functions being incorporated including social security information, driving licenses, healthcare, banking and transportation applications. And standardization is making the technology more secure and interoperable across different countries. Visitors and exhibitors to CARTES in Asia will be able to find out about all of this and much, much more at CARTES in Asia next month.”

Present in more than 70 countriesworldwide, Oberthur Technologies is one of the key players in identity sector, providing secure documents and issuance systems for more than 60 government programs.

“Oberthur Technologies participates in identity document programs in Asian countries including national electronic ID cards in Cambodia, electronic Driving Licenses for Bangladesh and Passports or electronic Passports in Thailand, Philippines, Taiwan and Nepal” said Mr Cheong Chung Chin, Vice president ID division Asia Pacific. “Oberthur Technologies is glad to take part in the third session of CARTES IN ASIA exhibition to meet our customers and show our latest innovations, products and solutions expertise at our booth”.

On March 28 CARTES in Asia will also provide an insight into major trends shaping ID Management and eGovernment at their conference. The ID Management and eGovernment all-day session will include speakers from Datacard, Gemalto, Global Platform, HID Global, JDSU, Keynectis, Komsco, Natural Security and Oberthur Technologies. The two day conference, which will bring together more than 300 high level conference attendees and over 70 keynote speakers will also cover Mobile Payment, NFC Applications, e-Transaction/e-Banking, Prepaid & Loyalty Programmes, IT Security & Internet of Things.

About CARTES in Asia
Date: 28-29 March 2012
Opening times: 9.30am to 5.30pm
Place: Hong Kong – AsiaWorld-Expo
Organizer: Comexposium
Website: www.cartes-asia.com

koreaittimes.co.id

Selasa, 24 Januari 2012

90 Percent of Passports to be e-Passports by 2016

Within five years 90 percent of passport holders will be using e-passports that integrate a smart card IC chip. This is one of the conclusions drawn from IMS Research's recent report “Electronic Government and Health Care ID Cards – World – 2011.” A rapid migration from paper or machine readable passports to smart card-based passports (complying with the ICAO standard for ePassports) started in 2007. This has led to nearly half of all passports now in use being e-passports.

“This trend is set to continue” stated the report author Alex Green. “There are still a few countries around the world that are not yet issuing e-passports. However, most have started and with the typical five to ten year replacement rates for passports, it is only a matter of time before all passports in circulation are e-passports.”

The report goes on to explore to what extent biometrics are being recorded on these e-passports. Interestingly, even for passports issued in 2010, in the majority of cases no biometric data is held on these secure ICs except for a digital image of the holders face. IMS Research forecast that this will change. “

By 2014, the situation is forecast to have been reversed” states Green. “By this time the majority of passports being issued will also include additional biometric data such a one or more finger print, iris scans, etc.”

The e-passport market is examined for 40 countries in IMS Research’s report “Electronic Government and Healthcare ID Cards – World – 2011.” Similar analysis is also provided for the national ID cards, healthcare cards, electronic driver’s licenses and a number of other government related card types.

thecuttingedgenews.com

Kamis, 24 November 2011

24 Juta KTP Elektronik Malaysia, MyKad Edisi Baru Jauh Lebih Canggih


akukamusemua.blogspot.com

Menteri Dalam Negeri Datuk Seri Hishammuddin Hussein telah mengumumkan bahwa Jabatan Pendaftaran Negara (JPN) akan mengeluarkan MyKad baru mulai Januari tahun depan. MyKad atau semacam KTP elektronik yang baru dimulai di Indonesia, diyakini memiliki fitur keamanan yang jauh lebih baik. MyKad baru ini juga dinyatakan mampu mereduksi permasalahan pemalsuan MyKad terdahulu serta masalah cip yang gampang rusak. "MyKad dengan struktur baru ini lebih berkualitas dan mengikuti ketentuan-ketentuan keamanan, sesuai dengan perkembangan waktu, keadaan dan tantangan masa mendatang. MyKad baru akan dibuat dari bahan "polycarbonate" yang lebih kuat serta dilengkapi dengan permukaan kartu yang dipolakan oleh laser." Penerbitan MyKad edisi baru ini dipastikan akan lebih mempermudah masyarakat dalam pemanfaatan Mykad untuk berbagai urusan," ujar Hishammuddin sebagaimana dikabarkan malaysiatoday.com.
 
Terkait penerbiatan MyKad baru, sebuah konsorsium yang terdiri berbagai perusahaan yang mewakili Pemerintah Malaysia telah menunjuk Unisys. Sementara itu Unisys telah mengumumkan bahwa cabangnya Unisys MSC telah menerima kontrak berjangkawaktu 2 tahun senilai USD35 juta sebagai bagian program nasional peluncuran project Smart Card MyKad. 

Proyek ini akan diimplementasikan dan dikembangkan oleh Unisys dan konsorsium. Terobosan kartu identitas yang multi aplikasi di Malaysia merupakan yang pertama dalam pemerintahan-pemerintahan di dunia yang menggunakan teknologi termaju dan saat ini Malaysia adalah negara yang memanfaatkan smart card dalam jumlah terbesar, 19 juta smart card telah diterbitkan hingga saat ini. 

Dibawah kontrak baru, Unisys akan menjamin semua aplikasi MyKad akan berjalan 24x7 pada pusat data Government Service Centre. Termasuk didalamnya dukugan perwatan dan perbaikan pada sistem-sistem hardware dan aplikasi-aplikasi sofware, juga mencakup server-server Unisys ES7000 dan ES2045 yang menjadi jangkar implementasi. 

Dukungan tenaga ahli Unysis juga termasuk dalam kontrak yang dilakukan oleh pemerintah Malaysia. MyKad baru memanfaatkan teknologi chip dan biometrik terbaru, untuk menjamin akurasi tingkat tinggi, memungkinkan lebih dari 24 juta warga Malaysia melakukan transaksi dengan nyaman dan tentu saja bagi sektor-sektor pemerintah dan swasta melalui penggunaan smartcard tunggal.  
Dibenamkan dengan teknologi digital terunggul,MyKad telah berpadu dengan strategi e-Government Malaysia dan menyediakan berbagi pengembangan masa mendatang dan berbagai tambahan untuk mendorong e-Government Malaysia dan berbagai inisiatif e-Commerce. MyKad yang berjalan sejak 1999, kini memasuki tahapan yang sangat maju. 

Penunjukan Unisys oleh konsorsium yang bekerja untuk kepentingan pemerintah Malaysia, akan berperan sebagai induk integrator berbagai sistem untuk implementasi MyKad. Sebagai satu-satunya titik kontrak dan refrensi antara pemerintah Malaysia dan 5 penyedia solusi yang ada dalam naungan Konsorsium Government Multipurpose Card (GMPC). 

 MalaysiaToday.com |lovelifesr.com|Martin Simamora

Rabu, 02 November 2011

Kejagung Kebut Usut Dugaan Korupsi e-KTP

e-KTP (VIVAnews/Ikhwan Yanuar)
Kejaksaan Agung mengaku serius membongkar dugaan korupsi dalam proyek pembuatan Kartu Tanda Penduduk Elektronik (e-KTP). Saat ini, penyidik Kejaksaan sedang bekerjasama dengan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) merumuskan bentuk perbuatan melawan hukum pada proyek e-KTP. 


"Tentu saja terkait kerugian negara karena itu permintaan BPKP untuk mengetahui berapa kerugian negaranya," kata Direktur Penyidikan Jampidsus Kejagung RI, Arnold Angkouw, usai seminar Penguatan Pemberantasan Korupsi Melalui Tugas Koordinasi dan Supervisi KPK di Jakarta, Kamis, 27 Oktober 2011.
Arnold mengaku cukup kesulitan membuktikan adanya korupsi dalam proyek e-KTP. Alasannya, penyidik harus keliling daerah terlebih dahulu, ke kabupaten, atau kota. "Supaya lebih jauh persis bagaimana kualitasnya, baru bicara teknisnya, sehingga bisa kita klasifikasi perbuatan melawan hukum," jelas dia.


Meski demikian, Kejaksaan Agung berjanji akan bergerak cepat mengungkap dan menyelesaikan kasus ini. Karena, kata dia, tuntutan masyarakat semakin hari semakin besar. "Memang kesulitannya dari sisi teknis. Harus bisa dibuktikan sehingga ada kerugian negaranya, ini yang bikin lama," kata dia. Terkait proses hukum terhadap empat tersangka, kata dia, saat ini proses itu masih berlanjut. "Yang jelas empat tersangka masih dalam proses. Mereka untuk sementara ini koperatif," tuturnya.

VIVAnews

Selasa, 01 November 2011

DPR Tidak Yakin e-KTP Selesai Tahun Ini

Komisi II DPR mengunjungi sejumlah daerah untuk memantau pelaksanaan program e-KTP. Hari ini, satu tim berkunjung ke Solo, Jawa Tengah. Satu tim lagi ke Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Dari kunjungan itu, Komisi II menemukan sejumlah persoalan yang membuat mereka sangsi bahwa program e-KTP selesai sesuai tenggat, yaitu Desember 2011.

Anggota Fraksi Golkar Nurul Arifin mengungkapkan, banyak permasalahan pelaksanaan progran e-KTP. Permasalahan itu antara lain, alat dari pemerintah pusat belum terkirim semua. Sebagian yang terkirim ada yang rusak. Sehingga, hal itu membuatnya sanksi apakah program bisa selesai sesuai target, yakni Desember 2011.
 

"Penjelasan Wakil Walikota FX Rudiatmo, dari 29 set alat yang dijanjikan pemerintah, baru 10 yang diterima dan itu pun 3 alat rusak dan tidak lengkap," kata Nurul melalui pesan BlackBerry Messenger, Senin 31 Oktober 2011. Menurut Nurul, agar pembuatan tetap jalan, Dinas Kependudukan melakukan aksi 'kanibal' dengan mengambil bagian-bagian yang tidak rusak untuk memperbaiki alat-alat yang rusak.

Dengan alat yang ada itu, sampai saat ini sudah selesai 84.000 e-KTP dari total 340.000. Kepada Komisi II, pemerintah kota Solo meyakinkan tetap bisa menyelesaikan sesuai tenggat. Strateginya antara lain, Pemerintah kota sudah memberlakukan kerja shift, yaitu pukul 08.00-16.00, dan 16.00-21.00.

 "Namun dari tim kemdagri yang mendampingi kami diperoleh keterangan bahwa sisa alat akan dikirim tanggal 12 November jika ini benar," katanya. Terpisah, Anggota Fraksi PKB Abdul Malik Haramain mengungkapkan, target pelaksanaan e-KTP di 197 kabupaten/kota untuk 2011 sepertinya tidak akan tercapai. Penilaian itu berdasar temuan kemampuan beberapa daerah dalam melaksanakan e-KTP tidak maksaimal.

 "Di kecamatan Praya Lombok Tengah NTB misalnya, dari target e-KTP 93.000 penduduk yang harus diselesaikan tahun ini, hingga hari ini hanya mampu melaksanakan 3500-an warga," ujar Malik. Menurut dia, perhari rata-rata di kecamatan ini hanya mampu memproses e-KTP untuk 250-an warga. Artinya perlu waktu 300-an hari untuk menyelesaikan e-KTP untuk 93.000. Dengan asumsi linier itu, maka target selesai pada 2011di kecamatan ini tidak akan tercapai.

 "Padahal Praya adalah ibukota Kabupaten Lombok Tengah yang punya akses informasi, transportasi dan posisi di tengah-tengah kabupaten. Bagaimana dengan Kabupaten atau Kecamatan yang punya kendala akses? Tentu tingkat kesulitannya jauh lebih kompleks." Sebelumnya, Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi sempat sesumbar program e-KTP tahun ini bakal selelasi sesuai target. Bila meleset, dia bahkan sempat menyatakan siap meletakkan jabatan.

vivanews.com

Rabu, 19 Oktober 2011

Vietnam gov't builds foundation for national IT security

prayastech.com
The government of Vietnam is building its national security IT infrastructure and has contracted some companies to help them carry out the project.

 CrimsonLogic, a provider of e-government solutions and services, said the Vietnam government has contracted their services for a consultancy project that will see users of government services receiving improved services through enhanced e-governance capabilities.

 The Vietnamese government has embarked on a World Bank-funded project that will involve building a Public Key Infrastructure (PKI) that will be the foundation of its National Authentication Framework (NAF). The system will enable customers of the e-government services to access a range of government services electronically using a single electronic identity.


 
Aside from simplifying procedures, the government said enhancing its e-governance capabilities can save the government up to VND 30 trillion (US$1.5 billion) annually. 

 CrimsonLogic is working with telecommunications provider FPT Information Systems to implement the project for the Ministry of Information and Communication (MIC) in Hanoi, Vietnam.



 Transparency in governance



The goal of the government is to simplify administrative processes through transparent and efficient online services within five years.

 Said Dr Nguyen Thanh Phuc, director general, Authority of IT Application, MIC: "Technology plays a key role for Vietnam to become a strong nation in IT and in e-government implementation.

We are deeply committed to the development of a reliable IT infrastructure as it advances the use of technology in government agencies, which improves productivity and reduces operational costs."

 CrimsonLogic said PKI provides a secure platform for authenticating information, data integrity, and offers confidentiality.


 Leong Peng Kiong, chief executive officer, CrimsonLogic, said the PKI project is a good foundation that can gradually lead to other projects by other government agencies in Vietnam. This, in turn, will provide more e-services to Vietnam's citizens and businesses.

 "CrimsonLogic's expertise with e-government implementations instils confidence that our partnership will be a success, enabling the Vietnamese government to deliver high-quality and efficient services," said Duong Dung Trieu, CEO, FPT Information Systems.

networksasia.net

Jumat, 14 Oktober 2011

Server E-KTP Tak Berfungsi

PROSES E-KTP - Seorang warga tengah menjalani scan sidik jari sebagai salah satu tahapan proses E-KTP, di Kantor Kecamatan Pekalongan Barat, Selasa (11/10) siang.
Server penangkap data kependudukan dari Pemerintah Pusat yang digunakan dalam proses pengambilan data program Kartu Tanda Penduduk Elektronik (E-KTP) yang ada di Kecamatan Pekalongan Utara beberapa hari ini tak berfungsi, karena mengalami kerusakan. Sehingga, proses pengambilan data E-KTP di wilayah ini saat ini untuk sementara terhenti. Sedangkan proses E-KTP di tiga kecamatan lainnya secara umum berjalan lancar tanpa ada gangguan.

Hal ini diakui Kepala Seksi Identitas Penduduk pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kota Pekalongan, S Purwanto SIP, di sela-sela proses pengambilan data E-KTP di Kantor Kecamatan Pekalongan Barat, Selasa (11/10) siang. "Namun permasalahan kerusakan server penangkap data tersebut telah kami laporkan ke pusat.

Dijanjikan nanti malam (tadi malam-red) akan dikirim. Mungkin besok (hari ini-red) alatnya akan tiba," ujar Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) E-KTP ini. Purwanto mengungkapkan bahwa sebelumnya, server E-KTP di Kantor Kecamatan Pekalongan Utara tersebut berfungsi normal.

Terutama saat uji coba E-KTP dilakukan pada 3-4 Oktober lalu. "Saat ujicoba itu, kita sudah bisa memproses data 80 penduduk. Tetapi saat ini di Utara sementara berhenti. Semoga besok kalau servernya sudah ada bisa berjalan normal lagi," ungkapnya. Dijelaskan, proses pengambilan data E-KTP di Kota Pekalongan untuk masyarakat umum sudah dimulai 5 Oktober lalu.

Sedangkan pihaknya ditarget agar proses pengambilan data E-KTP berupa foto wajah, tandatangan, scan 10 sidik jari, serta scan iris mata masing-masing penduduk yang telah memiliki wajib KTP di Kota Pekalongan seluruhnya bisa rampung akhir tahun ini, atau berjalan selama tiga bulan sejak dicanangkan.
Padahal, menurut Purwanto, sebelumnya Disdukcapil telah menghitung proses pengambilan data E-KTP akan selesai dalam jangka waktu lima bulan. "Tetapi ternyata ada keterlambatan pengiriman peralatan dari pusat, sehingga harus menunda pelaksanaannya hingga dua bulan, alatnya pun dua set untuk tiap kecamatan, sehingga total Kota Pekalongan dapat delapan set." 300 Warga Perhari Untuk memenuhi target akhir tahun ini bisa selesai, maka Disdukcapil harus memaksimalkan proses pengambilan data tiap harinya. Yakni, dengan memperbanyak jumlah warga yang dilayani tiap harinya.

Disebutkan Purwanto, tiap hari rata-rata tiap kecamatan memproses 300 warga untuk diambil datanya. Sedangkan penduduk yang wajib berKTP sejumlah 226.700 jiwa. "Harapannya nanti bisa selesai sesuai target waktu yang ditentukan," ujarnya.Disdukcapil juga mengerahkan 40 petugas operator E-KTP se Kota Pekalongan. Tiap kecamatan, ada 10 operator, didampingi satu petugas yang disediakan pusat.

"Pelaksanaannya dibagi dalam dua shift, shift pertama mulai pukul 07.00 hingga 14.00 WIB, dan shift ke dua pukul 14.00 hingga 21.00 WIB," imbuhnya. Lebih jauh Purwanto menjelaskan, saat ini proses pengambilan data E-KTP di tiga kecamatan, yakni Barat, Timur dan Selatan bisa berjalan lancar. Disebutkan pula, pengambilan data untuk tiap penduduk hanya membutuhkan waktu minimal tiga menit, dan paling lama enam menit. "Yang jelas, kita sudah berkomitmen melayani masyarakat semaksimal mungkin.

radar-pekalongan.com

Investigasi Tender Proyek e-KTP- RCTI

Indonesian Corruption Watch (ICW) menilai Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) sudah salah persepsi tentang proyek e-KTP. Menurut ICW, seharusnya pemerintah perlu merapihkan dulu nomor induk kependudukan secara elektronik (e-NIK) ketimbang proyek e-KTP. "Yang penting itu adalah e-NIK bukan e-KTP nya. e-NIK sangat penting untuk digunakan dalam keaslian membuat data SIM, Paspor, rekening pada suatu Bank, Asuransi bahkan untuk e-KTP nya sendiri,"ujar Kordinator ICW, Danang Widoyoko saat mengelar jumpa pers di kantor ICW, Jl. Kalibata Timur 4D, Kamis (13/10/2011).

Proyek e-KTP juga dinilai lebih mementingkan proteksi KTP-nya, bukan nomor induknya. "Seharusnya yang diproteksi itu adalah nomor induknya, bukan KTP-nya. Jadi pemerintah (Kemendagri) telah salah langkah membuat ini semua. Bahkan amanat UU No. 23 Tahun 2006 Tentang Administrasi Kependudukan tidak menyinggung sedikitpun soal penerapan e-KTP," ujarnya.

tribunnews.com

Kamis, 13 Oktober 2011

Bermasalah, Proyek e-KTP Terindikasi Dikorupsi

Okezone.com
Pengamat politik UI Boni Hargens menjelaskan, modus kejahatan korupsi semakin canggih. Tindak pidana itu tak hanya terjadi saat proyek-proyek pemerintah berlangsung. Tetapi juga sudah terjadi sejak rencana anggaran itu disusun. ’’Masyarakat tak boleh terbuai dengan kasus-kasus yang ada. Banyak persoalan korupsi lain yang bisa muncul lagi,’’ terang dia. Dosen ilmu politik UI ini menyebutkan, persoalan e-KTP saat ini masih mengalami kendala berpeluang menjadi kasus kourpsi baru. Itu terlihat dari berbagai persoalan yang menghambat pelaksanaan e-KTP.

Apalagi, terang dia, anggaran yang dikucurkan dalam proyek tersebut juga cukup besar. Namun nyatanya, harapan terlaksananya proyek kependudukan itu masih jauh dari harapan. ’’Saya rasa pantas kalau KPK segera melihat perkara ini sebagai persoalan penting pula,’’ ujarnya. Boni menambahkan, dalam berbagai perkara terakhir ini memang kuat indikasi perkara korupsi yang terjadi sudah terencana baik.
Artinya kasus korupsi itu sudah disusun sejak jauh hari. Sehingga proses mengambil uang rakyat pun terasa tanpa hambatan. Modus-modus tersebut, lanjut dia, perlu diperhatikan banyak elemen masyarakat. Lembaga-lembaga penyidik negara pun harus lebih serius memantaunya. Sebab, perkara korupsi yang direncanakan itu menjadi lebih kabur dan sulit terdeteksi.

’’Kalau direncanakan berarti memang sudah ada niat. Akibatnya pun banyak hal yang menjadi dibodohi,’’ pungkasnya. Menurutnya sanksi bagi pelaku korupsi yang terrencana itu haruslah lebih berat lagi. Tak bisa disamakan dengan pelaku korupsi dengan modus biasa. Agar sejak awal tindakan perencanaan korupsi menjadi dapat ditekan.

Sayangnya, dugaan kasus korupsi e-KTP belum disentuh Komisi Pemberantasan Korupsi. Dua pimpinan KPK, Haryono Umar dan Johan Budi, tak memberikan tanggapan sedikit pun. Berulang-ulang ponselnya dihubungi tak memberikan jawaban apapun. Sementara itu, Komisi II DPR RI akan memantau langsung penerapan e-KTP di daerah yang dianggap paling krusial pelaksanaannya. Masalah SDM dan sosialisasi jadi bom waktu kekacauan. ’’Kami sudah siapkan sampel lokasi untuk melakukan tinjauan,’’ kata Abdul Hakam Naja, Wakil Ketua Komisi II DPR RI, Minggu (2/10)

jpnn.com

Alat E-KTP Ngadat

Kepala Biro Kependudukan dan Catatan Sipil Pemerintah Propinsi Kalbar, Sopiandi menyatakan empat kabupaten dan kota di wilayahnya siap dalam melaksanakan KTP elektronik. Tetapi terkendala banyaknya peralatan yang macet, sehingga harus dikembalikan lagi. ”Tahun ini empat daerah dulu. Seluruhnya sudah siap dan alat sudah datang. Tetapi setelah dicek, ada peralatan yang macet. Ada yang lampunya putus dan lain-lain sehingga dikembalikan lagi untuk diperbaiki,” ujar Sopiandi di Kebun Percontohan PKK, Rasau Jaya, Rabu (12/10).

Empat daerah yang memberikan pelayanan KTP elektronik saat ini yaitu, Kota Pontianak, Singkawang, Kubu Raya, dan Landak. Menurut Sopiandi, seluruh peralatan pelayanan KTP elektronik dari pemerintah pusat. Pemerintah propinsi maupun kabupaten dan kota hanya menyiapkan tempat pelayanan dan petugas.
Selain itu, mereka juga mendatangi masyarakat yang tidak bisa datang untuk membuat KTP elektronik. ”Untuk listrik tidak ada masalah, kami menyiapkan genset 5000 watt di setiap kecamatan. Selain itu, ada alat yang bisa dibawa. Jadi bagi masyarakat yang jauh dan tidak bisa datang, bisa didatangi,” katanya.

Sopiandi mengimbau agar masyarakat segera mendatangi tempat pelayanan KTP elektronik untuk melakukan perekaman dalam 100 hari ini. Mereka yang melakukan perekaman dalam 100 hari akan mendapatkan KTP elektronik yang dikeluarkan Kementerian Dalam Negeri. ”Jika lewat 100 hari, tetap bisa melakukan perekaman.

Tetapi dinas yang mengeluarkan KTP-nya,” katanya. Ia menambahkan pada tahun depan, seluruh kabupaten sudah melayani pembuatan KTP elektronik. ”Pembuatan KTP ini gratis,” timpal Sopiandi. Asisten I Pemprov Kalbar, Sumarno juga mengimbau kesediaan masyarakat untuk segera mengurus KTP elektronik.

”Agar identitasnya jelas dan bagus,” katanya. Tetapi tidak semua warga mengetahui pelayanan KTP elektronik ini. Seperti yang diungkapkan salah seorang warga Rasau Jaya. ”Memangnya di Kubu Raya juga sudah KTP elektronik ya? Saya belum tahu. Warga di sini juga belum tahu. Mungkin desa lain, Rasau Jaya belum,” ujarnya.

jpnn.com

Jumat, 07 Oktober 2011

KPK Terus Kawal Proyek E-KTP

Boleh saja Kementerian Dalam Negeri mengklaim pihak mereka telah melaksanakan enam rekomendasi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada program kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP). Meskipun demikian, lembaga antisuap itu tetap akan mengawasi proyek tersebut hingga 2012 untuk mencegah adanya praktik korupsi.

Hal itu dikemukakan Wakil Ketua KPK Mochammad Jasin yang mengurusi bidang pencegahan kepada Media Indonesia, Rabu (5/10). "Yang terpenting bagi KPK adalah tidak ada praktik korupsi di dalam pengadaannya. Ini kan belum final pengadaannya dan masih ditelusuri," ujar Jasin saat ditemui di kantor KPK, Jakarta.

MediaIndonesia.com

KPPU Curigai Tender Program E-KTP

Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menyelidiki tender KTP Elektronik (E-KTP) senilai Rp5,84 triliun karena diduga ada persengkokolan proyek tersebut di sejumlah daerah. "Rincian nilai tendernya mencapai Rp5.841.896.144.999," kata Kepala KPPU KPD Surabaya, Dendy Rahmad, Jumat (30/9). Menurut dia, KPPU telah menindaklanjuti laporan yang masuk ke pihaknya pada tanggal 14 Juli 2011 dengan Nomor Laporan 131/KPPU-L/VII/2011 terkait dugaan persekongkolan tender pada proyek E-KTP.
"Penyelidikan ini berdasarkan tugas dan kewenangan kami yang diatur dalam pasal 35 juncto pasal 36 Undang - Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat," ujarnya. Setelah melakukan serangkaian klarifikasi, ia mengemukakan, sejak tanggal 28 September 2011 KPPU mulai meningkatkan laporan ini ke tahap penyelidikan.


"Penyelidikan ini bertujuan untuk memperdalam dan mengumpulkan bukti-bukti atas dugaan pelanggaran pasal 22 UU No.5/1999 terhadap potensi persekongkolan tender pelelangan pekerjaan penerapan KTP berbasis NIK Nasional (KTP Elektronik) tahun 2011," katanya. Ia menambahkan, dugaan tersebut melibatkan Terlapor I yakni panitia pelelangan pekerjaan penerapan KTP berbasis NIK Nasional (KTP Elektronik) tahun 2011. Lalu, Terlapor II yaitu Konsorsium PN dan Terlapor III Konsorsium AG.

"Sementara, pasal 22 UU No. 5/1999 mengatur bahwa pelaku usaha dilarang bersekongkol dengan pihak lain untuk mengatur dan atau menentukan pemenang tender sehingga dapat mengakibatkan terjadinya persaingan usaha tidak sehat," katanya. Sesuai kewenangan dan dugaan pelanggaran pasal tersebut, ulas dia, Tim Penyelidik KPPU akan fokus pada isu apakah terjadi persekongkolan atau pengkondisian pemenang tender.

MediaIndonesia.com

Kamis, 06 Oktober 2011

The production of electronic identification (e-ID) cards started

The production of electronic identification (e-ID) cards using retina scans started on Tuesday in the 14 districts across Yogyakarta municipality as part of a population main number (NIK) based system applied nationwide to avoid double-counting population data. Outgoing Yogyakarta Mayor Herry Zudianto and his wife Dyah Suminar officially started the program with the processing of their own respective e-ID cards at Umbulharjo district hall. It took some five minutes for Herry to have his eyes scanned as he had to repeat the process several times.

“I am sure the process and the data collection will run smoothly in the three months ahead as popular participation is relatively high,” Herry said. Yogyakarta is one of 197 regencies/municipalities across the country included as a pilot project in the national e-ID card program. The program was initially projected for implementation in August 2011, but was only able to start on Tuesday due to the late delivery of necessary equipment.
“At first I imagined it would be a nuisance to have my eyes scanned for the e-ID but I went along because it will be very useful,” Sugarman, a resident of Baciro, Yogyakarta, said. Prior to the application of e-ID cards using retina scans, ID cards used only finger prints. He said that with the ID cards applying nationwide, it would be easier to identify residents wherever they were in Indonesia.

“At least double ID cards will no longer be found in the country like now. Wherever we are, we are easy to identify. It’s much more practical,” Sugarman said. Head of the municipal population and civil registration agency’s data and information section, Dedy Feriza, said the agency had a target of completing between 200 and 300 applications in each of the 14 sites. The data collected includes the applicants’ photographs, signatures, finger prints and retina scans. The service is available every day from 8 a.m. until 8 p.m.

“So far the process in general is running smoothly in all 14 areas. The operators are skillful enough that they can provide a quick service,” Dedy said observing the production of e-ID cards in Gondomanan district hall, on Tuesday. Dedy also said that his agency hoped to produce e-ID cards for the whole population of Yogyakarta municipality, some 330,000 residents, by the end of this year.

“The city administration has allocated Rp 563 million (US$63,056) for overtime and incentives for the production of the e-ID cards,” said Dedy, adding that the service would also be available on Saturdays and Sundays. He said invitations had been distributed to all residents through their respective subdistrict administrations. He called on people to come to the production sites according to the schedule on their respective invitations to avoid long queues. “The program is done in phases in every district from one subdistrict to another,” he said.

.thejakartapost.com

Latvia to introduce ID-cards in 2012

Electronic ID-cards that will be implemented in Latvia in 2012 may promote electronic signature, Dienas Bizness writes on Monday. The business development director of the company Exigen Services Latvia Peteris Sliede supposes that Latvia should take the experience of other countries in electronic ID-cards implementation.

For example, Finland implemented electronic ID-cards on voluntary base and the number of cards and e-signature users was very low. By Sliede's words, Estonian experience in eID-cards implementation is a successful one when the country introduced the novelty gradually but the cards are obligatory for all residents. The state duty for electronic ID-cards will be about 10-12 Lats that is lower than a passport state duty.

e-swb.com

Selasa, 04 Oktober 2011

Govt planning multi-use smart ID cards by 2013

thehindubusinessline.com
The government is working on a proposal to issue multi-purpose smart identity cards to all adult citizens by the end of 2013, a move that could result in cost savings for the exchequer. "The proposal has been made under Citizenship Act amendment made in 2003. The Registrar General of India has proposed to issue smart identity cards to all citizens of the country above 18 years, which is under consideration by the Department of Expenditure," a senior official of the Registrar General and Census Commissioner (RGCC) said.
These cards can be also used in the place of ration, toll and election cards, among others, resulting in lower costs for the government, as a single card could serve various purposes rather than a separate ones for each service. The official said adults constitute approximately 65 per cent of the country's population and the government estimates that each smart card will cost about Rs 50.

"The final cost will be decided based on the recommendation received from the technical committee which has been set up under the Director General of NIC, B K Gairola," the official said. He added that the recommendations from the technical committee are expected to be out by October-end.
Among other things, the proposed smart identity cards will carry Aadhar numbers issued by the Unique Identity Authority of India (UIDAI), photographs, biometric data like finger prints and an iris scan of the card holder on an electronic chip. According to industry experts, these cards could be used by the state and the central government to replace various other cards and even the cost of each card can brought down.

"Both the state and central government can use these smart cards to provide a variety of services. Multi-purpose smart cards have the potential to work for several applications such as ration cards, toll cards, election cards or citizen ID cards or any application you can think of," smart card and biometric market expert S Swarn of Electronics Today said.

Swarn added that cost of cards can also go down if government applications are loaded on the same card, rather than issuing a separate smart card for each individual application. Last week, Registrar General of India C Chandramouli said the government will start the distribution of approximately eight million smart identity cards in 3,331 coastal area villages in the next two months. "The basic objective of issuing these cards is to identify citizens of the country and check infiltration. However, more can be done with these cards," the official said.

indiatimes.com/

Rabu, 21 September 2011

"Tak Tercapai Akhir 2012, Saya Berhenti Jadi Mendagri"

Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi kembali menegaskan bahwa dia optimistis program kartu tanda penduduk elektronik atau yang biasa disebut e-KTP akan sesuai target. Dia yakin pembuatan Nomor Induk Kependudukan untuk 170 juta warga yang wajib memiliki KTP akan selesai pada akhir 2012.

"Kalau 170 juta (penduduk) tidak tercapai di akhir 2012, saya akan berhenti sebagai menteri. Saya yakin akhir 2012 NIK selesai. Ini bukan overconfidence, ini tanggung jawab," kata Gamawan dalam acara dengar pendapat soal e-KTP dengan Komisi II DPR di Kompleks Senayan, Jakarta, Senin (19/9/2011).
Dalam dengar pendapat yang dipimpin Ketua Komisi II Chairuman Harahap tersebut, kalangan anggota DPR menanyakan soal pelaksanaan program e-KTP, terutama di daerah-daerah terpencil yang terkendala pengiriman alat, koneksi internet, ataupun sumber daya manusia yang mengoperasikan peralatan untuk pembuatan e-KTP.

Nurul Arifin dari Fraksi Golongan Karya menanyakan kepastian penyelesaian proyek e-KTP sebelum Pemilu 2014. Pasalnya, DPR tengah membahas RUU Penyelenggaraan Pemilu yang di dalamnya memasukkan klausul tentang calon pemilih yang bisa menggunakan e-KTP saat pemilihan nanti.

"Jangan sampai nanti berkali-kali mengubah undang-undang hanya karena masalah e-KTP," kata Nurul.

Gamawan menegaskan, target e-KTP akan tercapai. "Jadi silakan itu (klausul soal e-KTP) dimasukkan (ke dalam undang-undang)," katanya.

/nasional.kompas.com

Jumat, 16 September 2011

KPK Cek Rekomendasi e-KTP yang Telah Dijalankan Kemendagri


Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi menegaskan jika lima rekomendasi KPK terkait proyek e-KTP sudah dijalankan. KPK akan mengecek kebenaran itu.

"Ya harus dicek lagi, apakah memang benar lima rekomendasi itu sudah dijalankan," ujar Wakil Ketua KPK M Jasin melalui layanan pesan singkatnya, Kamis (15/9/2011).

KPK merasa ada enam rekomendasinya terkait proyek e-KTP tak digubris Kemdagri. Namun hal itu dibantah Gamawan. Sudah ada lima dari enam rekomendasi yang telah mereka jalankan.

"Dari 6 itu sudah 5 kita tindaklanjuti. Satu yang nggak. Tapi pernah nggak KPK nanya sudah ditindaklanjuti atau belum," kata Gamawan di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (14/9) lalu.

Menurut pria berkumis ini, ada sebagian rekomendasi KPK yang sebetulnya menjadi ranah kerja DPR dan Kemdagri. Karena itu, dia berharap KPK mau bagi-bagi tugas.

"Kalau sarannya agar dipisahkan rekam sidik jari dengan pembuatan KTP, itu bukan tugas KPK. Itu tugasnya kita dan DPR," tegasnya.
Terkait rencana KPK untuk melaporkan rekomendasi e-KTP ke presiden, Gamawan tak mau ambil pusing. Dia hanya berharap, KPK mau berkoordinasi terlebih dulu dengan kementerian yang dipimpinnya.

"Apanya yang mau dilaporkan. Pernah nggak ditanyakan dulu ke kita sebelum disampaikan ke presiden," keluhnya.

Sebelumnya, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pernah memberikan sejumlah rekomendasi terkait proyek e-KTP. Namun hingga kini, ada enam yang belum dilaksanakan. Enam rekomendasi itu adalah:
1) Penyempurnaan Grand Design;

2) Menyempurnakan aplikasi SIAK dan mendorong penggunaan SIAK di seluruh wilayah Indonesia dengan melakukan percepatan migrasi non SIAK ke SIAK;

3) Memastikan tersedianya jaringan pendukung komunikasi data on line/semi on line antara Kabupaten/kota dengan MDC di pusat agar proses konsolidasi dapat dilakukan secara efisien;

4) Melakukan pembersihan data kependudukan dan penggunaan biometrik sebagai media verifikasi untuk menghasilkan NIK yang tunggal;

5) Melaksanakan e-KTP setelah basis database kependudukan bersih/NIK tunggal, tetapi sekarang belum tunggal sudah melaksanakan e-KTP.

6) pengadaan e-KTP harus dilakukan secara elektronik dan hendaknya dikawal ketat oleh LKPP.

detiknews.com

Corruption Perceptions Index 2018

Why China is building islands in the South China Sea

INDONESIA NEW CAPITAL CITY

World Economic Forum : Smart Grids Explained

Berita Terbaru


Get Widget