Tampilkan postingan dengan label Government Management. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Government Management. Tampilkan semua postingan
Minggu, 13 September 2020
Kamis, 23 Agustus 2018
Election Security: What Can Governments Do Now?
By Dan Lohrman
Protecting the integrity of elections is a hot topic. From
cyberattacks to fake news influencing public opinion to other forms of
external manipulation that could undermine democracies, voting security
has risen to become a top issue for global governments. Here’s what you
need to know and potential next steps for the public and private
sectors.
- What really happened with Russia in the U.S. 2016 presidential election?
- Were any votes changed as a result of hacked voter machines?
- How did social media and fake news play into influencing voter decisions on candidates?
- What must be done now to better protect upcoming elections?
These questions, and many similar inquiries, have been asked for the
past 15 months, and some important new information has now surfaced to
help in formulating judgments and hopefully gain closure. But regardless
of pronouncements from leaders on the left, right and center of the
political spectrum (who generally see this issue very differently),
there is a growing sense of urgency for new actions to be taken
regarding protections for future election security.
This election security topic is of paramount importance to our
nation. As Juan C. Zarate, chairman and co-founder of the Financial
Integrity Network and former deputy national security advisor for
combating terrorism, recently wrote:
“Fair elections are at the core of every democracy. Russia's actions
surrounding the 2016 American election were aimed at undermining the
confidence of the democratic process.”
What follows are several excellent recommendations to protect our
votes. After framing the top election issues, this blog focuses on
actions that governments need to take now.
Selasa, 21 Agustus 2018
The Cybersecurity 202: Voters' distrust of election security is just as powerful as an actual hack, officials worry
As millions of people across the country vote in eight
different primaries today, state officials are working hard to secure
the elections from hackers. But officials say there’s a more pressing,
albeit abstract, challenge: Keeping voters confident that their vote is safe.
The U.S. intelligence community has concluded that a major goal of Russia’s campaign to interfere in the 2016 presidential election through cyberattacks on 21 states and national political organizations was to undermine public faith in the U.S. democratic process. By that count, election officials say, they're already succeeding in this cycle — without breaching a single system.
Just the fear of digital sabotage — and the perception that voting machines are hackable — is enough to scare voters into a lack of confidence in the democratic process, election officials lament.
“What
terrorists do is instill fear into the general population — if they’ve
done that they’ve accomplished their goals,” said Alex Padilla,
secretary of state of California, which holds its primary Tuesday.
That's why election interference, Padilla says, is "in and of
itself is an attack on our democracy. Any enemy, foreign or domestic,
that’s trying to sow doubts, that’s a form of voter suppression."
Labels:
Cybersecurity,
Government Management
Sabtu, 25 Februari 2017
Empat Orang Terkaya Indonesia Berkekayaan Senilai 100 Juta Orang Termiskin
Orang mengais sampah di Medan. Sekitar 93 juta orang
Indonesia saat ini hidup dibawah garis
kemiskinan moderat Bank Dunia dengan pendapatan $3.10 per hari. Photo: Sabirin Manurung/PP/Barcroft
Image/Pacific Press / Barcroft Images
Empat orang terkaya
di Indonesia memiliki kekayaan senilai 100 juta orang termiskin di negeri ini,
sekalipun presiden Indonesia berulang kali menyatakan komitmen untuk memerangi “bahaya”
tingkat-tingkat ketaksetaraan.
Oxfam pada Kamis, 23
Februari telah menyorot Indonesia sebagai salah satu negara yang paling timpang
di dunia, dimana jumlah miliarder dollar telah meningkat dari satu pada 2002
menjadi 20 pada 2016.
Oxfam menyatakan
bahwa empat orang terkaya Indonesia tersebut-dipimpin oleh Hartono bersaudara,
Budi dan Michael Hartono yang mengontrol aset senilai 25 miliar dolar, yang
secara kasar sama dengan jumlah kekayaan
40% orang paling miskin dari 250 juta
populasi penduduk Indonesia. Lembaga tersebut juga menyatakan bahwa Hartono
bersaudara-yang memiliki perusahaan rokok kretek-dapat menikmati bunga yang cukup,
pada kekayaan mereka dalam setahun, untuk menghilangkan kemiskinan ekstrim di
Indonesia.
Selasa, 22 September 2015
Pesawat Tempur dan Kapal Perang Perkuat Perairan Natuna
Pemerintah Indonesia
melalui Kementerian Pertahanan (Kemhan) akan memperkuat perairan Natuna dengan
menambah sejumlah kapal perang dan kapal patroli serta pesawat tempur guna
mengamankan wilayah Pulau Natuna dari kejahatan laut dan konflik Laut Tiongkok
Selatan.
"Kita akan
perkuat di sini (Natuna), baik dari TNI Angkatan Darat, Angkatan Laut maupun
Angkatan Udara," kata Menhan Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu saat
melakukan kunjungan kerja ke Pulau Natuna, Kepulauan Riau,
Rabu (16/9/2015).
Menurut dia, Pulau
Natuna wajib diperkuat sejumlah alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang
dimiliki TNI. Sebab, pulau ini berbatasan langsung dengan Laut Tiongkok Selatan
yang saat ini dirundung konflik.
"Di sini pulau
yang paling jauh di utara, salah satu pintu gerbang Indonesia. Di utara, di
Laut Cina Selatan masih ada ketegangan, antara Tiongkok dan beberapa negara
ASEAN, seperti Malaysia, Vietnam, dan Filipina. Tentu Amerika juga akan hadir
di tengah-tengah ketegangan ini," katanya.
Labels:
ASEAN,
Berita Nasional,
DPR,
Government Management,
Hankam,
Indonesia Cantik,
Natuna,
TNI
Ketua Komisi I DPR Dukung TNI Beli Sukhoi SU-35
Komisi I DPR
mendukung TNI membeli pesawat tempur Sukhoi SU-35. Dewan menilai Sukhoi SU-35
bisa menggantikan pesawat tempur jenis F-5 Tiger karena sudah tidak layak.
Ketua Komisi I DPR
Mahfudz Sidiq mengatakan, peremajaan pesawat tempur sudah seharusnya dilakukan.
Bahkan, dia menilai, TNI tidak boleh tanggung dalam membeli pesawat tempur.
"TNI sudah
mengajukan kebutuhan Sukhoi SU-35 dan sudah disampaikan ke Komisi I DPR. Komisi
I prinsipnya mendukung kalau untuk perimbangan kekuatan. Sekalian saja, jangan
tanggung-tanggung," kata Mahfudz di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis
(10/9/2015).
Labels:
Berita Nasional,
Government Management,
Hankam,
Militer,
TNI
Sabtu, 19 September 2015
Cek Status NIK Pada www.dukcapil.kemendagri.go.id Tidak Berfungsi
Tidak dapat diketahui sejak kapan “cek status NIK” pada situs resmi kemendagri ini tak berfungsi baik, namun, saat penulis memasukan data NIK, tidak mengeluarkan informasi yang diharapkan, sebagaimana diperlihatkan melalui salinan gambar di bawah ini:
Padahal database NIK ini, digambarkan canggih sebagaimana situs kemendagri.go.id
menyatakannya:
Karena kerahasiaan data,
penjagaan ruang database ini cukup ketat. Untuk masuk, pengunjung harus
melewati dua pintu. Setiap pintu dipasang kunci otomatis dengan sistem finger
print. Hanya petugas yang sidik jari sudah direkam yang bisa membuka ini. Dua
orang petugas keamanan juga berjaga setiap saat di belakang daun pintu.
Pusat database sendiri terdapat
dalam ruangan khusus berukuran 9x10 meter persegi. Belasan lemari kabinet
setinggi dua meter berjejer dipenuhi server dengan lampu yang kedap-kedip.
Untuk menjaga server bekerja normal, suhu ruangan diatur maksimal 23 derajat
celcius.
Jumat, 18 September 2015
ASEAN and China to step up crackdown on cyber crime
An official with China's Ministry of Public
Security on Monday called on his country and members of the Association of
Southeast Asian Nations to strengthen cooperation in the fight against
cross-border cyber crime.
"There are new trends in cyber crime, for
example terror cells using the internet to spread extremism, recruit members,
plot attacks and conduct money laundering," said Zhong Zhong, deputy chief
of the ministry's Internet Security Bureau.
Addressing the China-ASEAN Information Harbor
Forum held in Nanning, capital of south China's Guangxi Zhuang autonomous
region, Zhong said more than 90% of online fraud and gambling sites that target
Chinese citizens use overseas servers and virtual private networks (VPNs).
Zhong said China-ASEAN cooperation has yielded
results. In a joint-police operation against online gambling between China,
Vietnam and Myanmar in 2014, 119 suspects were arrested and 64 million yuan
(US$10 million) was frozen, he said.
Labels:
ASEAN,
China,
Cybersecurity,
Government Management
Minggu, 13 September 2015
US and China officials talk cybersecurity after Obama's warning about attacks
Four days of talks
wrap up to help prepare for president Xi Jinping’s visit later this month
including a ‘frank and open exchange’ about thorny cyber issues
Senior US and Chinese
officials have met to discuss cybersecurity and other issues ahead of Chinese
president Xi Jinping’s visit to Washington later this month.
Cybersecurity is a
thorny topic between the two powers and China has long been blamed for cyber
attacks on US commercial interests and sensitive government personnel records.
The discussions
included a “frank and open exchange about cyber issues” between the president’s
national security adviser, Susan Rice, and Meng Jianzhu, a senior Communist
party secretary for political and legal affairs, the White House said.
Labels:
China,
Cybersecurity,
Government Management,
USA
Rabu, 18 Maret 2015
Sabtu, 07 Maret 2015
Rabu, 04 Maret 2015
Rabu, 04 Desember 2013
Corruption Perceptions Index 2013
Corruption Perceptions Index 2013
Corruption Perceptions
Index 2013
The Corruption Perceptions Index 2013 serves as a reminder
that the abuse of power, secret dealings and bribery continue to ravage
societies around the world.
The Index scores 177 countries and territories on a scale
from 0 (highly corrupt) to 100 (very clean). No country has a perfect score,
and two-thirds of countries score below 50. This indicates a serious, worldwide
corruption problem.
Hover on the map above to see how your country fares.
Hover on the map above to see how your country fares. - See more at:
http://www.transparency.org/cpi2013/results#sthash.f3vikl6U.dpuf
Hover on the map above to see how your country fares. - See more at:
http://www.transparency.org/cpi2013/results#sthash.f3vikl6U.dpuf
Rabu, 23 Oktober 2013
Warren Buffet : Jika Pemerintah AS Gagal Bayar Utang, Itu Adalah Sebuah Ketololan
Oleh : Martin Simamora
Warren Buffet : Jika Pemerintah AS Gagal Bayar Utang, Itu Adalah Sebuah Ketololan
Bilioner
Warren Buffet mengutarakan bahwa
akan menjadi ketololan bagi pemimpin-pemimpin bangsa mengijinkan
Amerika Serikat untuk membuat gagal
bayar utang atas tagihan-tagihannya.
Investor kondang yang juga memimpin konglomerat Berkshire Hathaway, menyatakan hal ini pada Rabu, 16 Oktober 2013 di CNBC, sebagaimana dilansir Huffingtonpost.com
Buffet mengatakan, dia berpikir bahwa pemerintah federal tidak akan gagal membayar tagihan-tagihannya, tetapi "if it does happen, it's a pure act of idiocy." -- “jika itu memang terjadi, itu adalah sebuah tindakan murni ketololan.”
Investor kondang yang juga memimpin konglomerat Berkshire Hathaway, menyatakan hal ini pada Rabu, 16 Oktober 2013 di CNBC, sebagaimana dilansir Huffingtonpost.com
Buffet mengatakan, dia berpikir bahwa pemerintah federal tidak akan gagal membayar tagihan-tagihannya, tetapi "if it does happen, it's a pure act of idiocy." -- “jika itu memang terjadi, itu adalah sebuah tindakan murni ketololan.”
Jumat, 18 Oktober 2013
Akankah Terjadi Shutdown lagi? Joe Biden : ”There’s no guarantees of anything”
Oleh : Martin Simamora
Akankah Terjadi Shutdown lagi?
Joe Biden : ”There’s no guarantees of anything”
Joe Biden : ”There’s no guarantees of anything”
Telah disepakati oleh Kongres pada Rabu untuk memperpanjang pengeluaran (anggaran) pemerintahan Obama hingga 15 Januari 2014 mendatang, dan menaikan batas utang sampai awal Februari 2014. Tetapi negosiasi-negosiasi alot telah sedikit melunakkan perbedaan antara Demokrat dan Republik pada pertanyaan pengeluaran pemerintah.
Sehingga akankah bangsa ini terkena shutdown lainnya? Ada sebuah kasus kuat terkait mengapa itu tidak akan, tetapi prospek kebuntuan fiskal lainnya masih tetap sebuah kemungkinan yang nyata atau jelas.
Shutdown lainnya?
Wakil Presiden Joe Biden menjelaskan hal ini secara jitu pada Kamis saat dia menyambut para pegawai negeri yang kembali bekerja di Evironmental Protection Agency. ”There’s no guarantees of anything,” atau “Tidak ada garansi apapun,” ujarnya seperti dilansir laman nbcnews.com, ketika dia ditanyai apakah dia dapat menjaminkan atau memastikan kembali bahwa tidak akan ada shutdown.
Langganan:
Postingan (Atom)







