Editor : Martin Simamora, S.IP |Martin Simamora Press

Kamis, 25 Maret 2010

Malaysia Bantu Bangladesh Buat Laptop Lokal


Perusahaan telekomunikasi Bangladesh, Telephone Shilpa Sangstah (TTS) dalam waktu dekat akan menandatangani kesepakatan dengan sebuah perusahaan MalaysiaThink F Transistor (TFT) untuk membuat laptop lokal dengan harga murah.

Laptop lokal tersebut akan diahargai BDT12.000 atau sentara dengan lebih kurang Rp.1.500.000. Managing Director TSS, Ismail Hossain sebagaimana dikutip Plaza eGov dari Kantor Berita Bangladesh Sangbad Sangsta (BSS 20/3) menyatakan seluruh proses dan dokumen yang diperlukan agar kerjasama ini telah terpenuhi.

Kerjasama antara Perusahaan Malaysia dan Bangladesh dipandang layak oleh para ahli Bangladesh University of Engineering and Technology (BUET) saat mengemukakan pandangannya. Tiga mereka akan diproduksi dengan ukuran layar masing-masing 8.9,10.2 dan 12.2 inchi dan ditargetkan pada Juni 2010 mendatang telah masuk ke pasar laptop.


TTS pun kini bersiap untuk memproduksi laptop dengan kapasitas hingga 10.000 laptop per bulan, sementara untuk asesoris sepenuhnya akan diambil dari pasar lokal. Pada tahap awal TSS akan didampingi oleh tehnisi perusahaan Malaysia TFT dan kelak TSS akan memproduksi laptopnya secara mandiri. Ada 4 perusahaan internasional yang turut berpartisipasi dalam tender pembuatan laptop lokal dan TFT memenangkannya.


Posisi e-Government Bangladesh 2010 versi PBB

+ E-Government Index : 0.303
+ Online Service Index :0.356
+ Infrastructure Index : 0.033
+ Human Capital Index : 0.518
+ E-Participation Index : 0.100
+ Website : www.bangladesh.gov.bd
+ Peringkat E-Government Global : 134/184



(Martin Simamora)



India Bangun Green City


Negara bagian Tripura, India pada Minggu (21/3/2010) lalu telah mengumumkan bahwa semua kendaraan publik (transportasi umum) dan pribadi di Agartala akan menggunakan bahan bakar gas: Compressed Natural Gas (CNG) pada tahun 2013 mendatang, dan rencana ini akan menjadikannya Green City pertama di India.


Pelaksanaan program ini didukung oleh Tripura Natural Gas Co Ltd (TNGCL), sebuah joint venture antara Gas Authority of India Ltd (GAIL) dengan Pemerintah Assam dan Tripura dalam sebuah proyek pengadaan CNG untuk bahan bakar semua kendaraan pemerintah dan swasta.


CNG juga akan dapat digunakan oleh masyarakat yang kini menggunakan tenaga listrik, bahan bakar bensin atau solar untuk penggunaan beragam mesin."TNGCL hingga kini telah telah menyalurkan gas melalui pipa ke lebih dari 7416 konsumen rumah tangga, 155 bangunan komersial dan unit-unit industri di Agartala dan wilayah pinngirannya, termasuk juga rumah sakit dan krematorium, ujar Chairman TNGCL, Pabitra Kar sebagaimana dikutip Plaza eGov dari Prokerala.com.


Pabitra menyatakan:"Perusahaan akan segera menyediakan jaringan-jaringan pipa gas PNG ke 10.000 konsumen rumah tangga di perkotaan dan pinngiran, dan Agartala akan menjadi kota pertama di India yang akan menjadi Kota Hijau dalam waktu tiga tahun mendatang.


Departemen Transportasi pun akan memperkenalkan kepada publik 70 bis penumpang berbahan bakar gas CNG di Agartala, kota keempat setelah New delhi, Mumbai dan Lucknow di India yang menggunakan gas CNG sebagai bahan bakar kendaraan dalam skala besar.
Mahkamah Agung telah mendesak pemerintah untuk membebaskan kota-kota dari polusi dengan memperkenalkan kendaraan-kendaraan berbahan bakar gas CNG.



(Martin Simamora)



Rabu, 24 Maret 2010

NASA Lakukan Misi Penerbangan Ke Gunung Api


Kali ini NASA punya misi yang istimewa, jika biasanya melakukan eksplorasi angkasa luar adalah tujuan misinya maka kali ini gunung api pun sama menariknya, ada banyak misteri ilmu pengetahuan yang masih memerlukan penjelasan ilmiah. NASA menggunakan sistem detektor kebocoran pesawat ulang-alik untuk melakukan misi perjalanan ke Gunung Api, mendeteksi letusan gunung.



Tim Griffin dan Richar Arkin, NASA, berhasil memodifikasi dengan meminiaturkan sistem detektor kebocoran yang biasanya digunakan pada pesawat ulang-alik untuk mempelajari gunung api. Dua ahli NASA bekerja sama dengan pejabat berwenang Kosta Rika telah mengoperasikan detektor yang dapat bergerak untuk mengenali berbagai gas yang disemburkan gunung-gunung api dan berapa banyak volume gas yang dihasilkannya. Dengan informasi yang memadai diharapkan detektor-detektor tersebut dapat memprediksi letusan gunung api pada waktu yang tepat sehinga dapat dilakukan evakuasi penyelamatan penduduk ke area yang aman.



Detektor ini akan mengukur udara di sekitar gunung api, dan sejak tahun 2005 tim ini telah mengukur kandungan gas di puncak gunung api dan mengoperasikannya dengan menggunakan pesawat. Detektor ini pun dapat mengidentifikasi gas-gas berbahaya yang disemburkan dari puncak gunung api, dan jika ini yang terjadi mereka hanya memiliki waktu yang singkat untuk menyiapkan sistem peringatan dini letusan gunung api dan memberi waktu beberapa hari bagi penduduk di sekitar gunung untuk melakukan evakuasi.



"Ada banyak macam tipe letusan gunung api, ada tipe letusan yang menyemburkan gas ada yang sama sekali tidak", jelas Griffin sebagaimana dikutip Plaza eGov dari nasa.gov (24/3/2010)."Ide jangka panjangnya dengan sistem ini kita dapat mengkarakteristik semua gunung api yang ada, jika gunung api tersebut lebih aktif kita memiliki ide apa yang terjadi dengan gunung api tersebut, seberapa aktifnya gunung api tersebut dan dapat memperkirakan akankah terjadi letusan yang dahsyat atau hanya menyemburkan gas-gas saja?"


Griffin yang menjabat sebagai Ketua Pusat Peluncuran Kennedy NASA yang membidangi Analisa Kimia dan memimiliki gelar Ph.D. kimia, sebelumnya tak pernah mempelajari gunung api. Dia dan timnya berhasil memperkecil sistem deteksi kebocoran pada wahana luncur yang ukurannya sebesar 3 lemari es menjadi berukuran yang dapat dibawa dengan tangan, dan dibawa dengan mobil atai di dalam pesawat luar angkasa.

"Proyek ini dimulai sebagai cara untuk mengatasi keterbatasan yang ada dalam sistem ulan-alik," ujar Richard Arkin, Co-desaigner detektor ASRC Aerospace."Kami ingin membuat sistem detektor kebocoran yang lebih kecil, lebih kuat dan ringan namun tetap tangguh dalam kemampuan operasional dan pemeliharaan.


Kini setelah diperkecil alat ini hanya lebih besar dari tas punggung atau backpack dan memang tujuan proyek ini menjadikan alat ini dapat dibawa dengan backpack.
Uji coba di kosta Rika menunjukan hasil yang positif apalagi banyak penduduk yang tinggal dekat dengan 4 gunung api aktif. Penduduk tak hanya khawatir dengan letusan gunung api yang dapat terjadi sewaktu-waktu tetapi juga sangat khawatir dengan konsentrasi gas karbon dioksida yang dikeluarkan oleh gunung api. Gas tersebut dapat mematikan semua tanaman dan ternak yang menghirup gas tersebut,dan bagi manusia juga sangat berbahaya sebab gas ini tak terlihat oleh mata.


Sistem detetktor akan memperlihatkan kepada masyarakat keberadaan kantong-kantong gas dan bagaimana kantong-kantong gas berubah. Tim menerbangkan detektor dengan tiga jenis pesawat yang memodelkan terjadinya letusan gas dalam 3 dimensi, untuk menciptakan tingkat akurasi yang mengesankan, ungkap Arkin.


Tim NASA juga menempatkan alat detektor di kursi belakang mobil dan mengendarai mobil ke seluruh penjuru kota-kota Kosta Rika untuk mengambil contoh udara dan membawa alat tersebut dengan tangan ke puncak gunung api. Kelak alat ini diharapkan dapat diletakan didalam pesawat terbang tanpa awak sehingga dapat mendeteksi langsung di titik puncak semburan letusan tanpa membahayakan pilot.



Sekalipun hasil efektif temuan ini baru dapat dinikmati dalam waktu beberapa tahun kedepan, Griffin berujar dia dapat membayangkan akan ada sejumlah detektor di seluruh dunia yang akan memindai gunung-gunung api yang diduga akan meletus. Informasi dini akan membuat tugas pihak berwenang lebih yakin dalam membuat keputusan melakukan sebelum semuanya terlambat.

(Nasa.gov | Martin Simamora)



Eropa Waspadai Serangan Cyber Berskala Besar (1)


Sebuah tudingan serius dan tajam secara resmi dikeluarkan oleh Pemerintah Inggris. Sebuah Laporan yang dirilis oleh House of Lords menyatakan negara-negara Eropa tak memperbaiki keamanan online-ya, yang mengakibatkan seluruh benua Eropa jadi target empuk serangan cyber ungkap investigasi parlemen Inggris.






House of Lords juga menilai bahwa para pejabat berwenang di Brussels telah gagal untuk memperkuat mekanisme pertahanan internet Uni Eropa, dan berakibat kesenjangan yang besar antara Nato dengan negara-negara anggota Uni Eropa. Negara-negara Eropa kini semakin bergantung dengan internet untuk berbagai kebutuhan dan layanan, termasuk informasi, komunikasi dan perdagangan. Karakter umum dunia online adalah makin terkaitnya satu sama lain lebih dari sebelumnya. Namun laporan tersebut juga mengungkapkan perbedaan operasi keamanan online setiap negara turut menyumbangkan kerawanan sistem secara keseluruhan.


"Runtuhnya sistem cyber di sebuah negara dapat mempengaruhi negara-negara lainnya, jelas Lord Jopling , yang mengetuai European Union Committee, sebagaimana dikutip Plaza eGov dari Guardian (18/3)."Ancaman dapat datang dari mana saja, termasuk dari pelaku bisnis, layanan-layanan finansial seperti kota, infrastruktur kritikal atau mekanisme-mekanisme pemerintah, dan yang lebih pelik lagi anda tak pernah tahu pasti siapa yang bertanggungjawab terhadap masalah yang dimunculkan.



Lord Joplin lebih lanjut menyatakan, sementara Inggris memiliki sistem-sistem yang luas dan pelik untuk menangkal sebuah serangan cyber, namun tak semua negara dapat melakukan hal yang sama. Terutama jika berkaca dengan peristiwa serangan cyber yang melanda Estonia pada 2007. Estonia adalah salah satu negara Eropa yang memiliki jaringan perbankan yang sempurna, dan ketika serangan cyber melanda sistem perbankan, pemerintahan dan sistem-sistem lainnya lumpuh.



"Sebetulnya serangan cyber yang melanda Estonia relatif minor, tetapi pertahanan cyber negara tersebut sangat lemah, sehingga berdampak besar," jelasnya. Laporan yang bertajuk Protecting Europe against large-scale cyber-attacks mengedepankan fakta, semakin senjangnya kemampuan Nato dan Eropa dalam memberikan perhatian yang lebih tinggi terhadap pertahanan cyber dalam tahun-tahun belakangan ini.


Sementara Brussel berupaya keras memperbaiki kemampuan pertahanan cyber di seluruh benua, Nato telah berhail melakukannya, dan menyatakan
perang cyber merupakan ancaman yang sangat berbahaya sama halnya dalam menghadapi ancaman serangan misil dan EU telah membangun sebuah pusat keamanan online di Estonia.



"Kami tertinggal oleh karena lemahnya jalinan komunikasi dan kerjasama antara Nato dan EU di bidang keamanan cyber," ungkap Lord Jopling. Laporan tersebut juga menawarkan sejumlah rekomendasi untuk memperbaiki situasi , termasuk memberikan pelatihan yang lebih baik dan pembentukan Computer Emergency Response Teams, unit-unit yang akan menangani dampak berbagai serangan cyber.



Laporan berjudul Protecting Europe against large-scale cyber-attacks atau Melindungi Eropa Terhadap Serangan-Serangan Cyber Berskala Besar juga menyarankan penyediaan dana yang lebih besar lagi kepada European Network and Information Security Agency (ENISA) yang bermarkas di Yunani dan memiliki tugas untuk menolong perbaikan keamanan online di seluruh negara anggota Uni Eropa pada 2004, badan ini memiliki jumlah staf yang besar namun memiliki anggaran dan cakupan kerja yang terbatas.


Lords Committe menganjurkan kepada para pejabat berwenang di Eropa untuk mengalokasikan anggaran yang lebih besar kepada ENISA agar mampu beroperasi secara lebih efektif dan memperluas mandat kerjanya termasuk wewenang bekerja sama dengan kepolisian dan pengadilan untuk memperkuat penegakan undang-undang kemananan cyber.


Tak hanya mengkritisi kemampuan negara-negara Eropa namun laporan juga mengkritisi aspek-aspek strategi pemerintah Inggris, terutama lemahnya penggalangan kerjasama kemitraan antara pemerintah dengan masyarakat.

Sejauh ini juga belum diketahui secara jelas kerusakan fisik apa saja yang dapat diakibatkan oleh serangan cyber yang berhasil menghantam targetnya, dalam hal ini para pakar senior sepakat bahwa ancaman terhadap sektor ekonomi dapat mengalami kekacauan negara sebagai akibat serangan yang dilakukan oleh negara-negara dan organisasi-organisasi kejahatan yang cenderung semakin menjadikan internet sebagai media untuk melakukan serangan-serangan terarah.

Serangan-serangan cyber berskala besar seperti dialami oleh Georgia dan Iran telah memperlihatkan bahwa serangan-serangan cyber dapat digunakan untuk melumpuhkan infrastruktur-infrastruktur penting, sementara sejumlah insiden lainnya dikaitkan dengan keterlibatan China telah menciptakan bayang-bayang kelabu hubungan antara China dengan Barat.


Tiga tahun lalu terungkap bahwa operasi hacking yang dikenal sebagai Titan Rain yang diyakini sejumlah ahli terkait dengan militer China, berhasil melancarkan serangannya ke sejumlah pemerintahan di Amerika Serikat, Inggris dan Jerman. Titan Rain menginfiltrasi jaringan-jaringan komputer di dalam gedung parlemen dan Pentagon. Damapaknya para hacker berhasil mencuri informasi dan menciptakan kekacauan selama empat tahun.


Di awal tahun ini, Google pun menyatakan telah mengalami serangan cyber serupa yang dilancarkan dari dalam China. Serangan yang dikenal sebaga Operation Aurora menghantam lusinan korporasi utama Amerika Serikat.Peristiwa ini pun berbuntut ketegangan antara Google dengan China.

(Guardian | Martin Simamora)



Google Bangun Jaringan Kabel Internet Berkecepatan Tinggi di Bawah Samudra Pasifik


Google tak sendirian tapi ada SingTel, Bharti Airtel, Global Transit, KDDI, dan Pacnet yang siap membentangkan jaringan kabel internet berkecepatan tinggi dari Amerika Serikat ke Jepang yang akan meningkatkan bandwith hingga 20% dan memberikan Google koneksi langsung ke Asia. Bagi Google ini merupakan investasi jangka panjang di Asia yang teramat penting apalagi setelah konfliknya dengan China.

Konsorsium yang terdiri dari Google dan sejumlah perusahaan telekomunikasi telah menyelesaikan tahapan uji coba proyek senilai USD300 juta. Para pemakai internet di Asia akan dapat menikmati akses internet yang lebih cepat dalam waktu bebarapa bulan mendatang. Jaringan kabel internet berkecepatan tinggi memiliki potensi menciptakan kapasitas koneksi hingga 7.68Tbps (Terabits per second).

Sebagai imbal balik investasi--angkanya tak diungkapkan--Google akan menguasai 20% dari total kapsitas kabel keseluruhan untuk kepentingannya."Kebutuhan informasi adalah keperluan global. Seiring dengan meningkatnya ekonomi negara-negara Asia, maka lalu-lintas data dan penggunaan internet pun semakin meningkat. Pihak Google dalam pernyataannya yang dikutip Plaza eGov dari ZDNetAsia (19/3) menyatakan Google berkomitmen menyediakan pengalaman berkualitas yang berada di belahan dunia manapun tanpa melihat batasan negara.


Pacnet, perusahaan jasa telekomunikasi di Asia menginvestasikan USD100 juta dalam proyek ini dan Bill Barney CEO Pacnet menyatakan, perusahaan-perusahaan internet memerlukan bandwith untuk menyelenggarakan jasa-jasanya, dan biasanya harus menyewa perusahaan-perusahaan lain untuk membangun dan memelihara kabel-kabel dan koneksi-koneksi jaringan.

(ZDNetAsia | Martin Simamora)



Selasa, 23 Maret 2010

Jepang Anggarkan USD56 Miliar Untuk Bangun Smart Grid Nasional


Apabila Pemerintah Jepang meloloskan proses legislasi pembuatan undang-undang Perlindungan Cuaca, maka perusahaan pembangkit tenaga listrik Tokyo Electric Power Co dan sembilan perusahaan penyedia infrastruktur kelistrikan akan membutuhkan dana sebesar 5.1 triliun Yen atau USD56.3 miliar dolar untuk program peningkatan kemampuan jaringan pembangkit listrik yang akan dilaksanakan selam 20 tahun kedepan.

Perusahaan-perusahaan akan membutuhkan dana sebesar 2,5 triliun Yen untuk menginstalasi batre-batre dan instrumen-instrumen Smart Meter dan alat-alat lainnya untuk memantau arus listrik yang berasal dari energi terbarui, ujar Tomohiro Jikihara seorang analis Deutsche Security Tokyo sebagaimana dikutip Plaza eGov dari Bloomberg.com (12/3)


Kabinet pemerintah Jepang belum lama ini telah meloloskan rancangan Undang-Undang Cuaca sebagai payung yang menaungi peralihan ke penggunaan energi terbarui untuk memenuhi target pengurangan emisi gas rumah kaca dari capaian 25 persen yang ditargetkan terpenuhi dalam kurun 1990 hingga 2020. Rancangan ini menyatakan bahwa penggunaan energi Jepang harus terdiri dari 10% energi terbarui pada 2030, angka yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan 3% yang ditetapkan oleh International Energy Agency (IEA) oada 2007 lalu.


Jikihara pun menyatakan penerapan Green Energy oleh pemerintah memiliki dampak membangun yang lebih luas karena menciptakan banyak lapangan kerja baru dan investasu pengembangan teknologi-teknologi maju, jelas Jikihara.


(Bloomberg.com | Martin Simamora)



Corruption Perceptions Index 2018

Why China is building islands in the South China Sea

INDONESIA NEW CAPITAL CITY

World Economic Forum : Smart Grids Explained

Berita Terbaru


Get Widget