Editor : Martin Simamora, S.IP |Martin Simamora Press

Jumat, 04 Juni 2010

Inefisiensi Birokrasi Indonesia, Salah Satu Yang Terburuk Di Asia


Bersama dengan India dan Filipina, Indonesia dikategorikan sebagai negara dengan birokrasi yang tidak efisien dalam kadar yang sangat buruk kawasan Asia, dimana birokrasi pita merah diterapkan pada masyarakat dan menyiutkan keinginan investasi asing untuk masuk, ungkap survei yang dilakukan oleh Political and Economic Risk Consultancy (PERC), dipublikasikan pada Rabu (2/6/2010).

Survei PERC, menempatkan pusat-pusat keuangan regional di Singapura dan Hongkong sebagai penyelenggara birokrasi yang paling efisien di Asia. Birokrasi negara-negara di beberapa negara di kawasan Asia telah menjadi semacam "pusat-pusat kekuasaan" dalam kendali penuh para birokrat, yang memampukan mereka secara efektif menolak berbagai upaya reformasi yang dilakukan oleh para pejabat pemerintah yang ditunjuk secara resmi oleh pemerintah.

PERC dalam laporannya secara khusus menyorot Indonesia. Kegagalan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melaksanakan reformasi berkontribusi terhadap pengunduran diri Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, yang menerima posisi senior di World Bank, jelas PERC.

Lebih lanjut, dikutip Plaza eGov dari chinapost.com (3/6/2010) konsultan menyatakan:"Walaupun Presiden Susilo memiliki mandat kuat berdasarkan kemenangan pemilihan umum, ia tak memiliki kekuatan yang cukup kuat untuk mengguncangkan birokrasi Indonesia," ujar PERC.

PERC memeringkatkan 12 negara dan wilayah kunci dengan skala 1 sampai 10 sebagai skor terburuk yang dapat terjadi, para eksekutif bisnis dalam survei menilai India sebagai kawasan dengan tingkat inefisiensi birokrasi terburuk.

Peringkat Efisiensi Birokrasi di Kawasan Asia versi PERC :

1. India : 9,41
2. Indonesia : 8,59
3. Filipina : 8,37
4. Vietnam : 8,13
5. China : 7,93
6. Malaysia : 6,97
7. Taiwan : 6,60
8. Jepang : 6,57
9. Korea Selatan: 6,13
10.Thailand : 5,53
11.Hongkong : 3,49
12.Singapura : 2,53

Pemeringkatan ini berdasarkan survei yang dilakukan PERC terhadap 1.373 eksekutif expatriate dengan posisi manajemen menengah hingga atas yang dilakukan pada awal 2010.

Di India para politisi kerap menjanjikan reformasi dan revitalisasi birokrasi India, tetapi pelaksanaannya tak pernah efektif, penyebab utama kegagalan di India karena pelayanan publik menjadi sebuah "pusat kekuasaan" dalam gengaman para birokrat, jelas PERC.

Berurusan dengan birokrasi India dapat menjadi salah satu pengalaman yang paling memfrustasikan bagi warga India, apalagi bagi para investor asing. Birokrasi pita merah dalah masalah yang serius baik di China dan India, namun karena kedua negara memiliki perbedaan sistem politik maka dampak paling buruk terjadi di India, daripada di China.

Pemerintah Filipina kini sedang "bergerak" menyelesaikan berbagai masalah birokrasi pita merah tetapi sejauh ini tidak ada perbaikan nyata yang terjadi, ungkap PERC. Masyarakat di Filipina kerap menggunakan jasa oknum birokrat - kerap disebut sebagai "fixer"- yang dapat mengatasi hambatan birokrasi sebab dapat memfasilitasi transaksi-transaksi dengan kantor-kantor pemerintah, membayar fee dan kerap berkolaborasi dengan pegawai pemerintah yang korup.

(Martin Simamora | chinapost.com)


Rekam Jejak Kemajuan E-Government Korea (bagian 3)

Portal E-People, penyampaian petisi dan diskusi secara online : www.epeople.go.kr memfasilitasi masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembuatan kebijakan publik dengn cara menyampaikan keberatan-keberatan dan saran-saran melalui sistem satu jendela atau Single Window. Masyarakat dapat menyatakan opini-opininya terhadap pengelolaan administratif yang tak adil, dan pelanggaran terhadap hak-hak dan kepentingan-kepentingan masyarakat yang dilakukan oleh para birokrat.


Masyarakat juga dapat menyampaikan pandangan-pandangannya terhadap perbaikan-perbaikan lembaga pemerintah yang perlu dilakukan dan kebijakan-kebijakan melalui sistem online yang terintegrasi. Semua lembaga administrasi pemerintah di Korea 
Selatan terhubung dengan e-People window yang menerima dan memproses semua keberatan dan saran yang disampaikan oleh masyarakat. Disaat yang sama masyarakat dapat mengecek hasilnya secara online.

Single Window for Business Support Servicess (www.g4b.go.kr) meyediakan sebuah informasi yang luas dan layanan untuk mendukung semua aktivitas bisnis perusahaan seperti layanan informasi sipil, informasi kebijakan, dan layanan-layanan lainnya yang tersaji melalui layanan sistem online satu jendela. Mulai tahun 2008 layanan ini menyajikan informasi lengkap : 1.887 layanan korporasi dan informasi industrial 205 organisasi tersaji secara terintegrasi. Berbagai layanan penting lainnya untuk aktivitas-aktivitas korporasi juga tersedia, sebab terhubung dengan jaringan backbone nasional termasuk untuk mendapatkan layanan; procurement, pajak dan 4 jaringan asuransi sosial utama.

On-Nara Business Process Systems (BPS) adalah sebuah sistem manajemen bisnis baru 
yang mampu meningkatkan efisiensi dan transparansi administrasi sebab sistem menangani, merekam dan mengelola dengan mekanisme terstandarisasi pada semua prosedur online bisnis pemerintah. Pada sistem ini semua proses yang dilakukan oleh pemerintah diklasifikasikan berdasarkan; fungsi dan tujuan, kemajuan proses dan kinerja yang secara sistematis dirunut hingga ke unit kerja yang paling dasar. Pembuatan dokumen dan prosedur-prosedur bisnis distandarisasi dan proses pembuatan keputusan direkam untuk menjamin akuntabilitas dan transparansi administrasi publik. 


(Martin Simamora)





Rekam Jejak Kemajuan E-Government Korea (bagian 2)


Pada perode ketiga (2008-2012), pemerintah mulai membangun target berikutnya, yaitu mengintegrasikan semua sistem e-Government agar pelayanan publik yang sederhana terwujud. Dimulai pada tahun 2008, pemerintah menjalankan implementasi berbagai proyek yang berfokus pada koneksi dan integrasi yang mendukung penciptaan nilai. Untuk mengintegrasikan layanan publik berorientasi masyarakat dan bisnis, sehingga e-Government terintegrasi.


Implementasi e-Government di Korea telah memasuki tahapan tertinggi yang disebut sebagai "Stage V" yang ditandai dengan keberadaan network, dari sebelumnya di Stage IV yang ditandai dengan kemampuan transaksional berdasarkan Web Measure Idex yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Pemberdayaan e-Government membuat Korea mampu melakukan berbagai perbaikan yang luar biasa di sejumlah sektor. Melalui Electronic Procurement Service (www.g2b.go.kr) 
semua prosedur procurement ditangani secara online melalui sistem satu jendela (Single Window), sehingga memperbaiki efisiensi dan transparansi dalam pengadaan publik. 

Penggunaan Electronic Procurement Service di semua tahapannya seperti; bidding, pemberian kontrak, penandatanganan kontrak, pengantaran dan pembayaran, dilakukan melalui sistem online, dan dapat dipantau secara real time. Semua perusahaan yang telah teregistrasi dapat berpartisipasi dalam proses tender yang diselenggarakan oleh semua organisasi pemerintah melalui sistem registrasi tunggal pada sistem G2B.

Electronic Customs Clearance Service (portal.customs.go.kr) memperluas penggunaan informasi oleh semua entitas atau lembaga terkait untuk memperbaiki dan menyederhanakan proses dan bisnis logistik ekspor/impor serta pengimplementasian sebuah layanan pemrosesan batch atau pencatatan logistik yang mudah digunakan . Laporan-laporan ekspor/impor ke kantor bea cukai dan aplikasi-aplikasi untuk inspeksi dan karantina bagai organisasi-organisasi yang berwenang terintegrasi sehingga dapat memberikan sebuah layanan yang one-stop-service.

Comprehensive Tax Service (www.hometax.go.kr) memampukan semua pembayar pajak untuk mengurus semua kepentingan pajaknya di rumah melalui sistem online atau di tempat kerja tanpa perlu mendatangi kantor-kantor pajak atau bank. Semua aktivitas pajak termasuk penyimpanan dokumen, tagihan dan pembayaran diproses secara online dan informasi pajak dapat dilacak kapan pun oleh pembayar pajak.

Masyarakat Korea menikmati kemudahan mengurus administrasi melalui Internet Civil Service (www.egov.go.kr), dengan sistem ini masyarakat dapat memanfaatkan berbagai layanan administrasi pemerintah kapan saja, dimana saja melalui internet. Masyarakat dapat menikmati 5.300 layanan administrasi melalui website ini lengkap dengan informasi yang sangat terinci. Website ini menyajikan 720 layanan sipil secara online tanpa perlu melakukan kunjungan ke kantor dan menerima hasilnya melalui layanan pos surat. Masyarakat bahkan dapat membuat sendiri 28 dokumen sipil melalui sistem ini.

Patent Service (www.kiporo.go.kr) memungkinkan masyarakat Korea mengajukan atau mendaftarkan paten melalui aplikasi-aplikasi yang tersaji dan dapat memantau kemajuannya secara online. Semua prosedur aplikasi pembuatan paten, peninjauan dan penilaian termasuk pengajuan keberatan terhadap pendokumenan, dan evaluasi tehnikal dapat diakses oleh publik untuk menggunakan layanan-layanan administrasi paten. Sehingga setiap orang dapat mengecek dan mengelola berbagai informasi dengan efisien. Patent Service juga menyediakan layanan-layanan seperti penerbitan sertifikat paten, verifikasi, termasuk pembayaran komisi.

Rekam Jejak Kemajuan E-Government Korea (bagian 1)


Hanya dengan menekan tetikus (mouse), warga di distrik Gangnam, Seoul dapat mengajukan permohonan untuk membuat dan memantau proses pembuatan berbagai dokumen sipil. Warga juga dapat melakukan pembayaran pajak dan denda, berpartisipasi dalam berbagai survei terkait pembuatan kebijakan, mengamati berbagai program pendidikan dan menerima berbagai berita lokal terkini.


Kantor Distrik Gangnam telah mengembangkan sistem aplikasi-aplikasi penerbitan sipil berbasis internet untuk meningkatkan kenyamanan warganya dimana warga tidak perlu mendatangi kantor-kantor pemerintah, sekaligus meningkatkan efisiensi administrasi. Lebih lanjut Sistem Pembayaran Pajak melalui internet memungkinkan masyarakat untuk membayar pajak dan melacaknya, atau membayar denda pelanggaran parkir atau berhenti di tempat terlarang, sehingga tidak perlu melakukan pembayaran denda ke bank. Penggambaran ini memperlihatkan bagaimana implementasi e-Government memberikan manfaat nyata kepada masyarakat.

E-Government yang dikembangkan oleh pemerintah Korea telah dinilai sebagai yang terbaik di dunia oleh berbagai organisasi dunia dan efektifitas e-Government Korea juga diakui secara luas oleh komunitas internasional. Korea juga berhasil meraih posisi terhormat baik untuk e-Government Development Index dan e-Participation Index (ePI) yang dilakukan oleh U.N. Global e-Government Survey 2010.

Korea mengalami lompatan kemajuan yang istimewa, pada e-Government Development Index terdahulu (2008) negara ini ada diperingkat ke 6 dan ke 2 untuk peringkat ePI. Lonjakan peringkat ini tak sekedar peningkatan peringkat semata tetapi berdampak nyata terhadap ekonomi dan industri IT negeri gingseng dengan menjadi pengekspor teknologi dan keahlian e-Government Korea.

Fakta lain yang terbilang istimewa adalah : keberhasilan Korea sebagai pengembang dan implementor teknologi e-Government berhasil "memerdekakan" negara ini dari penggunaan sistem administrasi negara lain. Ketika KOrea dijajah oleh Jepang selama 36 tahun, negara Matahari Terbit berhasil memaksa Korea untuk mengadopsi sistem administrasi Jepang, kini semua berubah.

Jepang saat ini sangat tertarik dengan teknologi dan keberhasilan yang diraih oleh Korea, malah kini Korea menjadi "guru" teknologi administrasi bagi Jepang. Pembangunan e-Government di Korea dapat diklasifikasikan ke dalam 3 periode :

1. Periode pembangunan infrastruktur e-Government (1987-2002)2. Periode implementasi e-Government berskala penuh (2003-2007)3. Periode pengembangan e-Government ke tingkatan yang lebih maju (2008-2012)

Tujuan yang hendak dicapai pada periode awal adalah mendigitalisasi semua prosedur penyelenggaraan pemerintah, dan pembangunan infrastruktur IT. Untuk mewujudkannya, pemerintah Korea memulainya dengan meletakan dasar komputerisasi sistem administrasinya pada 1970, mengkomputerisasi semua database utama nasional pada 1980, dan membangun jaringan informasi dan komunikasi berkecepatan tinggi pada tahun 1990-an.

Pada tahun 2000, mulai mengidentifikasi e-Government sebagai strategi kunci untuk berinovasi dan mengadopsinya sebagai agenda kepresidenan. Pada tahun 2001, "Electronic Government Act" diaktifkan sebagai undang-undang dan 11 inisiatif terpilih dan diimplementasikan untuk meningkatkan efisiensi semua urusan administrasi dan secara dramatis meningkatkan kualitas semua layanan publik. Semua inisiatif yang digelar pemerintah bertujuan memperbaiki semua layanan pemerintah kepada masyarakat dan dunia bisnis, menciptakan produktivitas yang lebih besar pada proses administrasi, dan menyediakan sebuah dasar yang kokoh bagi pembangunan e-Government.

Pada periode kedua (2003-2007), pemerintah memperluas dan memperbaiki semua pelayanan kepada masyarakat dan dunia bisnis dengan mendigitalisasi seluruh proses bisnis pemerintah. Digitalisasi juga memperbaiki efisiensi administrasi dan transparansi melalui reformasi metoda-metoda kerja pemerintah. Digitalisasi juga menciptkan keterkaitan dan konektivitas diantara semua sistem informasi.

Dalam praktiknya,pada periode ini, pemerintah telah memilih dan mengimplementasikan 31 proyek roadmap di empat area yang bertujuan menciptakan e-Government yang berkelas dunia. Pemerintah Korea berupaya melakukan inovasi terhadap bagaimana e-Government bekerja, dengan mendigitalisasi semua prosedur pemrosesan dokumen, dan mewujudkan agenda nasional : manajemen real time dan e-Government Lokal. Inovasi pelayanan publik juga menyentuh perbaikan semua layanan publik berbasis internet, mengembangkan layanan pendukung "Single Window", dan meningkatkan partisipasi publik secara online.

Pemerintah Korea juga melakukan inovasi pada manajemen sumber daya informasi termasuk membangun National Computing Information Resources Administration (NCIRA), membangun sebuah sistem keamanan informasi, dan merestrukturisasi semua organisasi dan sumber daya manusia informasi. Terakhir, pemerintah melakukan inovasi pada sistem legal yang didukung dengan reformasi e-Government, menambahkan aspek keamanan.

Berlanjut ke



(Martin Simamora | koreatimes.co.kr)


Kamis, 03 Juni 2010

USB Flash Drive Gemalto Berteknologi Enkripsi Smart Card Untuk Keamananan Data Pemerintah


Penyimpan data memori flash yang memiliki alat penghubung USB yang terintegrasi kini makin populer dan luas penggunaannya bahkan di lingkungan pemerintah dan militer pun menjadi bagian penyimpanan data baik data umum hingga data-data penting. Isu keamanan jadi kelemahan media ini terutama penggunaan di lingkungan pemerintah dan militer. Pada konferensi tahunan Smart Card Alliance 2010 di Arizona, sebuah perusahaan keamanan digital dunia terkemuka, Gemalto memperkenalkan flash disk yang memiliki teknologi keamanan enkripsi berbasis smart card.

Inovasi Gemalto membuahkan penghargaan Outstanding Innovation in Security Technology Award pada perhelatan akbar Smart Card Alliance 2010 Annual di Arizona, Amerika Serikat. Flas disk gemalto dilengkapi dengan teknologi keamananan : SG FIPS, sebuah USB Falsh drive yang memiliki enkripsi berbasis smart card yang memiliki sertifikasi FIPS 140-2 level 3, sebuah sertifikasi keamanan yang memenuhi persyaratan militer Amerika Serikat. USB SG FPS memberikan perlindungan "data-at-rest" untuk semua data pemerintah yang tersimpan pada USB Drive tanpa mempengaruhi produktifitas pengguna. Semua instansi pemerintah memiliki pilihan untuk menggabungkan SG FIPS dengan Verifikasi. Identitas Personal, menjamin akses ke penyimpan data yang terlindung berbasii otentifikasi identitas.

USB Flash Drive berteknologi pengaman sangat krusial seiring meningkatnya penggunaan laptop atau mobile gadget lainnya yang semakin membutuhkan USB Drive yang nyaman dan "zero footprint". Berikut adalah fitur yang dimiliki USB Flash Drive Gemalto:

* FIPS 140-2 level 3 certification
* On board anti-virus and anti-malware solution
* Zero-foot print plug-and-play on multiple operating systems.
* Tamperproof and waterproof metal body
* Smart card based always-on encryption
* Integration with end-point security products from Microsoft, PGP and other vendors
* Managed through central management software or Gemalto hosted service

* Available with 2 and 4 GB memory capacities
* Built in USA

Spesifikasi tehnik ; data retention >10 tahun, enkripsi :Native 256-bit AES hardware encryption 256-bit encryption key Chain Block Cipher (CBC) mode, Waterproof MIL-STD-810F, McAfee Antivirus (option). Fitur umum Smart Card ; HID(Human Interface Device), memory rewrite :> 500K r/w cycles.

(Martin Simamora)

Abu Dhabi Bangun Infrastruktur Konektivitas E-Government


Sebagai salah satu bagian implementasi dari berbagai inisiatif e-Government,perusahaan telekomunikasi Etisalat dan Abu Dhabi General Services :Musananda, telah menandatangani sebuah MoU untuk membangun "Government Wide Network" yang disebut ADNET yang akan menghadirkan koneksi-koneksi pendukung e-Government antarlembaga pemerintah yang sangat aman dan handal.

Bertempat di Musananda, Abu Dhabi, Chief Executive Officer Musananda, H.E Mohamed Al-Fahed Al-Mehairi dan Senior Vice President Etisalat-Enterprise menandatangani MoU ADNET yang menandai soft launch ADNET, sekaligus implementasi infrastruktur jaringan dan pembangunan 24x7 Network Operations Center (NOC).

Implementasi program ADNET dikelola oleh Musanada dan dipimpin oleh Abu Dhabi Systems and Information Centre (ADSIC)- sebuah inisiatif eGovernment strategis yang akan memberikan konektivitas untuk berbagai pelayanan publik secara aman dan biaya yang efektif. Ini menjadi langkah penting menuju konsisten semua pelayanan publik diseluruh wilayah dengan sebuah kesepakatan level pelayanan yang akan memacu kinerja layanan.

Kerjasama antara MUSANADA dan Etisalat membuktikan komitmen MUSANADA untuk membentuk sebuah Master Services Agreement di semua layanan pokok yang akan dihadirkan oleh Etisalat, layanan-layanan tersebut :Managed WAN dan Router Services, Internet over Ethernet dan Konektivitas antarpusat Data.

Mohamed Al Mehairi, CEO MUSANADA berujar :"Komitmen, pemikiran yang kreatif dan kerja keras semua orang (Etisalat, ADSIC, dan MUSANADA) yang terlibat didalamnya telah memampukan kita untuk mencapai tahap yang sangat menentukan ini dan mendukung target pemerintah untuk mewujudkan visi2030, yang memiliki tujuan utama untuk menghadirkan layanan publik berkelas dunia bagai semua warga Abu Dhabi. Keunggulan ADNET akan dirasakan jika semua pelayanan publik bermigrasi dan berbagai layanan antarlembaga melalui platform ini.

ADSIC dilansir dari Kippreport.com (1/6/2010), menjadi lembaga pemerintah pertama yang bermigrasi ke ADNET dan konsekuensi yang diakibatkanya : lebih dari 100 entitas pemerintah direncanakan bermigrasi pada 2010 dan 2011. Saat ini ADSIC telah berjalan penuh diatas ADNET dan klien pertamanya adalah 24/7 Network Operations Centre yang berlokasi di kota Mohamed Bin Zayed dan siap untuk merespon berbagai permintaan layanan dan insiden. Sejumlah lembaga pemerintah lainnya seperti; ADAA, FDF dan GSEC juga bersiap melakukan migrasi dalam beberapa minggu kedepan.

Etisalah bertanggungjawab membangun infrastruktur ADNET, untuk mendukung layanan eGovernment, yang mmenjadi critical link bagai beragam lembaga pemerintah dan pengguna terakhir (end user) yaitu ; masyarakat, dunia bisnis, semua entitas pemerintah, dan pegawai pemerintah, sehingga akan terbentuk fondasi fundamental bagi semua inisiatif e-Government.

(Martin Simamora)

Corruption Perceptions Index 2018

Why China is building islands in the South China Sea

INDONESIA NEW CAPITAL CITY

World Economic Forum : Smart Grids Explained

Berita Terbaru


Get Widget