Editor : Martin Simamora, S.IP |Martin Simamora Press

Sabtu, 18 Februari 2012

Menjawab Tuduhan FPI atas penolakan warga Dayak di Kalimantan Tengah

Saat ini sedang hangat-hangatnya dibicarakan peristiwa penolakan FPI di Bandara Tjilik Riwut Palangkaraya, namun terkait peristiwa tersebut pemberitaan yang termuat adalah lancung dari fihak FPI. Sebagai salah satu putra Dayak Ngaju, tentu saya merasa perlu untuk membalas berita-berita lancung tersebut, karena memang semestinya tulisan dibalas tulisan, thesis dibalas thesis, bukan malah tulisan/argumen dibalas dengan kekerasan. Didalam beberapa statement FPI yang dimuat dalam media fasis agama disebutkan bahwa "Dayak Kafir, Ndeso!", "Kafir Harbi- yang halal darahnya"..
  1. Dayak Kafir Ndeso! Bernafsu 'Bunuh' Habib Rizieq Padahal Belum Kenal 
  2. Munarman: Kafir yang menghalangi dakwah adalah kafir harbi, halal darahnya!

Pernyataan-pernyataan ini sangat disayangkan, karena pernyataan seperti ini bisa memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa. Kali ini saya akan membahas kasus ini dari sudut pandang awam saya, agar tidak terjadi kesimpang siuran (, bahwa warga dayak tidak bermasalah dengan agama Islam tetapi bermasalah dengan FPI...

Mari kita mengenal suku Dayak terlebih dahulu..

1. DAYAK PADA MASA KEGELAPAN


Dayak adalah suku asli yang mendiami pulau kalimantan yang memiliki ratusan sub suku dayak, memiliki bahasa yang berbeda, beberapa tradisi memang berbeda namun pada umumnya jauh sebelum masuknya berbagai kepercayaan seperti Hindu, Islam dan Kristen masuk ke tanah kalimantan, orang-orang dayak telah memiliki kepercayaan leluhur, yang sekarang disebut dengan "Kaharingan"-- kaharingan memiliki makna "kehidupan". Didalam setiap sub- suku dayak memiliki beberap variasi tradisi dan adat.

Disamping itu pada zaman dulu orang-orang dayak memiliki tradisi "mengayau" dan "jipen"-- mengayau adalah tradisi memenggal kepala manusia pada masa perang atau digunakan untuk keperluan upacara-upacara adat, sedangkan jipen adalah- perbudakan hasil tawanan perang yang kemudian jipen ini dapat dikorbankan ketika upacara tiwah oleh sang pemilik jipen yang meninggal sebagai pelayannya di "lewu liau"/ Dunia orang mati.

Penulis pada bulan desember lalu, pergi ke kampung halaman kakek di Tangkahen tidak begitu jauh dari Palangkaraya, disana penulis berkesempatan melihat sandung dan jejak rumah betang, dan menurut cerita ibu, dahulu dikampung ini ada rumah betang yang bertingkat tiga. Pada masa asang-kayau - (Pada masa orang dayak masih berperang satu sama lain, mebunuh dan mengayau) jika "asang-kayau" mulai menyerang kampung, maka semua orang segera masuk kedalam rumah betang, dimana anak-anak dan peremupuan diungsikan ditingkat paling atas, laki-laki berjaga ditingkat bawah dan tangga akan segera diangkat.



Perlu diakui orang-orang dayak pada zaman dahulu memiliki tradisi dan kebudayaan yang kurang baik, namun bukankah kebudayaan itu bersifat progresif, manusia akan semakin menemukan "era of reasoning", seperti yang dialami masyarakat eropa pada abad pertengahan, juga sampai pada masa revolusi gereja dan berpengaruh pada revolusi industri. Demikian juga masyarakat arab pada jaman jahiliyah. Masyarakat Dayak menemukan titik "era of reasoning-nya" pada tahun 1864 yaitu melalui Rapat Damai Tumbang Anoi. Dimana semua suku dayak untuk pertama kalinya berkumpul dan memutuskan untuk berhenti dari kebiasaan mengayau dan jipen. Dalam hasil rapat itu dihasilkan 96 pasal yang mangtur hidup bersosial dan beradat. What a wonderful story mengingat pada zaman itu transportasi yang sukar, alat komunikasi yang tidak ada, bahkan setiap sub suku dayak memiliki bahasa yang berbeda-beda namun berhasil menghasilkan suatu keputusan yang melampaui stigma "kampungan" / "ndeso" terhadap orang dayak.

 MASUKNYA AGAMA SAMAWI DALAM LINGKUNGAN DAYAK

Masuknya agama Semawi kedalam tanah Borneo tidak lepas dari kedatangan bangsa Eropa, Melayu dan mubaligh dari tanah Jawa. Walau sebelumnya orang kalimantan telah menerima terlebih dahulu agama Hindu yaitu ditandai dengan berdirinya kerajaan Kuatai Kertanegara.

Stigma yang terjadi saat ini kata Dayak hanya digunakan bagi orang asli kalimantan yang masih beragama Kaharingan atau Kristen, sedangkan Dayak yang masuk Islam tidak ingin disebut dayak lagi tetapi melayu atau banjar. Stigma ini mungkin muncul akibat pengaruh politik devide et impera, dan adanya tekanan terhadap orang Dayak pada zaman dulu yang dianggap sebagai kampungan. Cerita ini banyak terjadi di kawasan Kalimantan Barat, dimana orang-orang dayak yang berpindah keyakinan menjadi pemeluk Islam meninggalkan budaya dan tradisinya, dan mulai mengubah identitasnya sebagai orang melayu. Penulis pernah bertugas di Balikpapan, ketika itu berkenalan dengan seseorang sebut saja namanya Bapak "Anoi", beliau mengaku dirinya orang Banjar, namun ketika saya memperkenalkan diri saya sebagai orang Dayak Ngaju, baru Bapak ini mengakui bahwa dirinya adalah orang Dayak juga tetapi dayak Bakumpai.

Walau tidak semua dayak yang beralih keyakinan menjadi pemeluk Islam yang "malu" akan identitas kedayakannya, di Kalimantan Tengah pada umumnya komposisi 50-50 Muslim dan Non Muslim, namun baik itu dayak muslim atau kristen masih mengakui dirinya sebagai orang dayak. Hal ini dapat dilihat dalam upacara Tiwah (upacara pemakaman Kaharingan) dimana dalam penyembelihan kurban dilakukan oleh orang Muslim, sehingga sodara-sodara muslim lain dapat ikut bersama upacara Tiwah. Ketika agama Semawi mulai masuk ke kalimantan tidak ada penolakan, ataupun pemaksaan untuk memeluk suatu agama manapun, bahkan tidak heran dalam satu keluarga bisa banyak terdapat agama, karena falsafah "Rumah Betang".. Rumah Betang adalah rumah panjang, dimana semua keluarga besar tinggal pada rumah yang sama saling berinterkasi dan saling tolong menolong. Stigma terhadap orang dayak yang masih menganut agama "helo" / "tatu hiang" (agama leluhur) sebagai "heiden"/ "kafir" adalah pengaruh politik devide et impera, namun falsafah rumah betang ini yang mempersatukan , ini terbukti sampai sekarang ini tidak pernah ada keributan yang bernuansa agama.

Pada tahun 2000 ketika terjadi kerusuhan Sampit, banyak oknum yang hendak mencoba mengalihkan ke isu agama. saya pernah menonton suatu video yang beredar youtube tentang kerusuhan sampit, dengan background bahasa arab dan menjelaskan bahwa ini penyerangan orang-orang kristen terhadap orang islam, namun itu tidaklah benar. Selama kerusuhan sampit tidak ada satupun mesjid atau rumah ibadah yang dirusak atau dibakar. Bahkan ketika tahun 2000-an, saya sedang berada di Jakarta untuk mengikuti kongres Anak Indonesia, salah satu peserta dari daerah lain mencoba menjelaskan bahwa dalam kerusuhan sampit banyak mesjid yang dibakar. Lalu saat itu saya maju dan menanyakan adakah data mesjid yang dibakar? dan saya menanyakan dia berasal dari daerah mana? ternyata dia bukan berasal dari Kalimantan Tengah, dan dia tidak memiliki data tetapi hanya mendengar "katanya".

Jadi kesimpulan saya adalah, suku dayak adalah suku yang terbuka dan siap menerima perubahan zaman dan tidak akan melupakan identitas kesukuannya, selama falsafah rumah betang masih dipegang maka isu-isu mengenai agama tidak akan berhasil memecah belah persatuan orang dayak.

Menjawab Tuduhan FPI

Setelah kita cukup membahas tentang Dayak, sekarang saya ingin menanggapi tuduhan-tuduhan yang dilotarkan fihak FPI terhadap orang dayak baik itu melalui media online maupun TV.

1. Dayak = Kafir

 Pernyataan ini dikemukakan oleh Munarman yang dimuat dalam  sebuah website berita :  Munarman: Kafir yang menghalangi dakwah adalah kafir harbi, halal darahnya!

Pernyataan ini sungguh sangat melukai perasaan orang dayak, baik itu dayak Muslim ataupun non muslim. Pernyataan ini sungguh dapat menyebabkan perpecahan bangsa. Apalagi dikatakan "halal" darahnya. Saudara Munarman mungkin lupa bahwa kata "kafir" adalah antonim dari kata "syakir" atau syukur. Orang-orang kafir adalah orang yang tidak pernah bersyukur, kafir juga memiliki makna orang-orang yang tertutup. Jika kita merunut kedalam sejarah abad-abad pertengahan melalaui catatatan-catatan The Principal Navigations, Voyages, Traffiques and Discoveries of the English Nation. Perkataan kafir pada awalnya digunakan pada abad-15 untuk "budak-budak" afrika oleh bangsa arab yang kemudian diadopsi oleh bangsa eropa (dapat dilihat dalam buku "Encyclopedia of Islam" yang ditulis oleh Juan E. Campo hal.422)

Pada masa Islam sendiri kata-kata kafir itu muncul dalam surat al kafirun . namun Munarman melupakan suatu ayat didalam quran sendiri yang berbunyi lakum diinukum waliya diini yang artinya Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku. Jadi kata-kata kafir pada masa Islam adalah pembeda antara orang islam dan bukan islam tetapi bernuansa toleran karena tidak ada pemaksaan agama. Berbeda dengan penafsiran Munarman, bahwa orang dayak dikatakan "kafir", Munarman telah menghina suku bangsa dayak. Dimana dengan mengatakan kafir dia ingin mencontoh politik devide et impera yang dipraktekan oleh Belanda dahulu kala, yang memberi cap "heiden" dan juga secara tidak langsung ingin kembali kepada abad pertengahan yang memberi stigma "kafir" bagi para budak.

Perlu diingat orang dayak bukan menolak dakwah, tetapi penolakan terhadap FPI, karena FPI memiliki faham fasis dan rasis. Jika memang orang dayak menolak dakwah tidak akan ada orang dayak yang masuk islam atau mesjid berdiri. FPI bukan Islam, walaupun anggotanya adalah orang Islam. Mengutip pernyataan cak Nun "bahwa Islam tidak butuh dibela, jika Islam butuh dibela maka Islam itu lemah, siapa FPI yang merasa bisa untuk membela Tuhan?". Kerukunan antara umat beragama di kalimantan sangat baik, jika faham-faham fasis seperti ini masuk, ditakutkan akan merusak rasa kesatuan.

 2. Yang memprotes ialah preman-preman asuhan Teras Narang



Pagi ini di TV one menonton dialog salah seorang anggota FPI yang mengatakan bahwa yang demo di Palangkaraya adalah preman-preman asuhan Teras Narang. Ini jelas adalah pengalihan isu, bahkan bisa saya bilang Rampok teriak maling. Aksi kemarin sungguh merupakan aksi spontan yang dilakukan oleh orang dayak, informasi ini tersebar melalui media jejaring sosial baik itu FB dan Twitter. Ketika rencana pelantikan FPI di Kalteng mulai beredar, keresahan dan penolakan mulai muncul, sehingga keresahan ini ditanggapi oleh Dewan Adat Dayak, yang mengadakan rapat di Rumah Betang Gubernuran, memang kebetulan ketua Majelis Adat Dayak Nasional adalah Pak Agustin Teras Narang. Namun desakan ini bukan berasal dari provokasi beliau. Jika dilakukan wawancara hampir seluruh masyarakat kalimantan senang dengan kepemimpinan Teras Narang, yang berhasil membawa perubahan dan menggeliatkan perekonomian di Kalimantan Tengah.Jadi tuduhan FPI jelas tidak berdasar.

3. Aksi "preman" dayak yang mengacung-acungkan mandau dan mengancam ingin membunuh

Sungguh statement ini sekali lagi saya anggap adalah Rampok teriak maling. Mereka lupa daftar aksi kekerasan yang mereka lakukan sendiri: DAFTAR AKSI FRONT PEMBELA ISLAM. Orang dayak merasa FPI sebagai suatu laten atau ancaman, merupakan hal yang lumrah jika masyarakat bersifat defensif. Bahkan sebelum keberangkatan FPI ke Palangkaraya anggota FPI sudah menyadari bahwa sudah ada penolakan warga dayak , karena hal ini sudah dikoordinasikan dengan fihak kepolisian dan MUI, tetapi fihak FPI tetap ngotot untuk datang ke Palangkaraya, sehingga terjadi aksi pengusiran, dengan mereka tetap ngotot datang berarti mereka menantang masyarakat kalimantan. Dan hal itu lumrah tejadi dalam eforia massa, namun hal ini dapat ditenangkan ketika Teras Narang datang ke bandara, untuk menjelaskan dan menenangkan massa. Jadi sekali lagi tuduhan-tuduhan lancung ini tidak berdasar.

 4. FPI dibutuhkan oleh masyarakat Dayak, karena masalah agraria

Ini lagi pernyataan paling konyol, karena ini negara hukum, masa iya kalo ada masalah agraria ngadunya ke FPI, bukan ke fihak yang berwajib, jika ormas-ormas bisa bertindak sebagai "penegak hukum" maka negara ini tidak akan berjalan. Tokoh dayak seruyan yang dimaksudkan oleh FPI juga bukanlah tokoh dayak. Budiyardi yang berasal dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa ini berstatus daftar pencarian orang (DPO) alias buron Polres Seruyan. Masak iya DPO disebut sebagai tokoh dayak.. what a funny.. fail..

 5. Aksi penolakan masyarakat dayak sebagai pelanggaran UUD

Dalam harian tempo dimuat fasal-fasal yang dituduhkan :  Rizieq dan FPI Laporkan Teras Narang ke Polisi. Karenanya, FPI, kata Rizieq, menuntut dengan dugaan melakukan pelanggaran KUHP berupa perbuatan tidak menyenangkan Pasal 335, upaya perampasan kemerdekaan Pasal 333, perusakan secara bersama-sama Pasal 170, dan percobaan pembunuhan Pasal 338. 

Sekali lagi ini adalah rampok teriak maling, fasal-fasal yang diajukan adalah fasal-fasal yang seharusnya dari sejak dulu diekenakan kepada FPI, banyak kasus-kasus yang dilakukan tetapi seolah-olah ada pembiaran oleh negara. FPI mengenakan standard ganda, ketika aksi anarkis-anarkis yang dilakukan mereka, peduli setan dengan namanya HAM, dengan namanya fasal-fasal  UU, tetapi giliran mereka ditolak baru mencari-cari fasal untuk membela mereka, Sungguh memalukan.


KESIMPULAN
  1. Saya sangat menagpresiasi keberanian oleh itah yang memiliki falsafah isen mulang namun juga "mamut menteng" yaitu berani, kita berani untuk menolak sesuatu yang akan menjadi laten dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
  2. Dayak tidaklah menolak dakwah, orang dayak kalteng menolak kehadiran FPI atau ormas sejenis yang membawa faham fasis agama.
  3. Aksi penolakan warga dayak bukan aksi preman, atau pula karena ada unsur muatan politik. memang mungkin akan ada opportunis elit politik yang ingin mencoba memancing di air keruh, tetapi roh/spiritnya merupakan spontanitas warga adat dayak.
  4. Faham FPI tidaklah sesuai dengan kehidupan dan adat masyarakat dayak yang mengedepankan toleransi, persamaan hak, dan tenggang rasa.

Bangga menjadi orang dayak.. maju terus uluh itah... Semangat Isen Mulang.. Adil Ka' Talino, Bacuramin Ka' Saruga, Basengat Ka' Jubata

by Cakra Wirawan Emil Bangkan on Thursday, February 16, 2012 at 2:08am ·

Tidak ada komentar:

Corruption Perceptions Index 2014

Russia e-Government : One Click State

e-Government: have we forgotten of the public sector context?

Eight mega trends in e-government for the next eight years

World Economic Forum : Smart Grids Explained

Fraunhofer Fokus : e-Government & Applications

Berita Terbaru


Get Widget