Editor : Martin Simamora, S.IP |Martin Simamora Press

Senin, 21 September 2015

China Membangun Landasan Pesawat Ketiga Di Kepulauan Laut China Selatan


Previous satellite pictures of construction and dredging under way at Mischief Reef in the Splatly Islands. © Getty Images

China terlihat sedang membangun landasan pesawat ketiga pada  teritori yang sedang diperebutkan di kawasan Laut China Selatan, seorang pakar Amerika Serikat telah mengatakan hal itu  belum lama ini pada Senin 14 September, menanggapi  serangkaian foto satelit yang diambil  seminggu sebelumnya.

Foto-foto tersebut diambil untuk Center for Strategic and International Studies atau CSIS  Washington, yang memperlihatkan pembangunan di Mischief Reef [jadi ini adalah kepulauan batu karang], satu dari sejumlah pulau-pulau buatan China yang telah diciptakan dalam kepulauan Spratly.


Gambar-gambar memperlihatkan sebuah area persegi empat dengan sebuah tembok penahan, panjang 3.000 meter, tepat seperti yang sedang dikerjakan oleh China pada  2 kepulauan karang lainnya, Subi dan Fiery Cross, ujar Greg Poling, direktur Asia Maritime Transparency Initiative (AMTI), CSIS.
 
Reklamasi di Pulau Karang Subi oleh China, dilihat dari Pulau Pagasa di kepulauan Spratly, sebelah Barat Pulau Palawan -Filipina- Foto: AFP- Richie F. Tongo,  news.yahoo.com
“Jelas, apa yang telah kita lihat sedang dibangun adalah sebuah landasan pesawat sepanjang 3.000  meter dan kita telah melihat sejumlah pengerjaan lainya yang jelas terlihat sedang membangun apa yang terlihat sebagai fasilitas-fasilitas pelabuhan bagi kapal-kapal.”

Para pakar keamanan mengatakan bahwa landasan tersebut akan memadai untuk mengakomodasi hamper semua pesawat militer China, memberikan Beijing jangkauan yang lebih besar kedalam maritim Asia Tenggara, dimana kompetisi antarnegara kawasan itu berlangsung, melibatkan beberapa negara.
China juga melakukan reklamasi di Subi Reef dan terlihat sedang membangun apa yang terlihat sebagai landasan pesawat

Perihal ini menyeruak dalam kunjungan presiden China Xi Jinping. AS kuatir dengan meningkatnya pernyataan klaim-klaim territorial China di kawasan itu. Juru bicara Departeman Pertahanan AS,  Bill Urban, sebagaimana diberitakan oleh Nikkei.com, menyatakan bahwa secara  berulang AS meminta China untuk menghentikan reklamasi, pembangunan dan militerisasi Laut China Selatan untuk meredakan ketegangan dan menciptakan ruangan bagi solusi-solusi diplomatik.”


Landasan baru di pulau karang Mischief Reef secara khusus mencemaskan  Filipina, sebab landasan itu akan membuat patrol-patroli China lebih konstan dalam kehadiran, sementara Filipina merencanakan eksplorasi minyak dan gas di Reed Bank, jelas Poling.
 
Konstruksi China di kepulauan Spratly, kokohkan penguasaan China di kawasan ini secara negatif- nikkei.com
Manakala  3 landasan itu  rampung, akan memampukan China untuk membahayakan semua lalu lintas udara  di kawasan udara  Laut China Selatan yang diklaim China, semakin menguatirkan bila China menempatkan pertahanan-pertahanan udaranya yang canggih.


China melangkah maju dengan membangun pulau-pulau buatan di kawasan Laut China Selatan pada tahun lalu, yang menimbulkan kritisme keras dari Washington.
 
China sedang melakukan konstruksi skala besar di pulau karang Johnson- gambar: Angkatan Bersenjata Filipina- nikkei.com
Terhadap hal ini, pembangunan landasan di Mischief Reef, jubir Kementerian Luar Negeri China, Hong Lei, mengulangi klaim China untuk  “ berkedaulatan tanpa dapat dipersengketakan” atas kepulauan-kepulauan Spratly dan  merupakan hak China untuk membangun fasilitas-fasilitas militer di sana.


Indonesia Tak Boleh Berpangku Tangan

Indonesia tak boleh berpangku tangan atau berdiam saja, walau memang Indonesia tak memiliki konflik langsung pada kepulauan-kepulauan yang sedang diduduki oleh China saat ini, sebab bilamana konflik militer terjadi maka wilayah udara dan perairan Indonesia akan  terdampak. Seketika, mana kala perang pecah maka menjadikan sebagian wilayah udara dan perairan Indonesia menjadi zona berbahaya hingga menjadi zona yang terdampak perang. Indonesia harus aktif mendorong penyelesaian diplomatis dalam sengketa ini, jika ingin stabilitas kawasan Asean tetap berada di tangan Asean, bukan di tangan China, AS ataupun negara lain manapun.
 
Aktifitas pembangunan China di pulau karang Croos Reef. Gambar oleh AL AS dari  pesawat P8 Orion- Reuters-US Navy
Harus diperhatikan, bahwa kekuatan militer China saat ini telah memiliki kemampuan perang global, walau memang belum seperti AS dengan kemampuan kapal-kapal Induknya, dengan jumlah terbanyak di dunia saat ini. Namun dengan memiliki 3 landasan pesawat di kawasan ini, maka China kelak suatu saat akan seperti memiliki “Hawai”-nya AS, yang berkedudukan di Laut China Selatan. Hanya saja “Hawai”-nya China ini merupakan kawasan yang diduga kaya minyak dan gas bumi, berada di kawasan kedaulatan negara lain.

Saksikan parade Militer China  yang sangat MENAKJUBKAN!


Parade militer China belum lama ini, telah memperlihatkan kemampuan China yang sungguh luar biasa dalam kemajuan militernya. Sebuah modal paling mendasar untuk mendukung kebijakan “KEDAULATAN” diwilayah kedaulatan negara-negara lain, secara sepihak membangun landasan udara, tanpa sama sekali berkomunikasi dengan ASEAN dimana Indonesia berada.

[Martin Simamora, nikkei.com, reuters.com, dw.com]



















Tidak ada komentar:

Corruption Perceptions Index 2014

Russia e-Government : One Click State

e-Government: have we forgotten of the public sector context?

Eight mega trends in e-government for the next eight years

World Economic Forum : Smart Grids Explained

Fraunhofer Fokus : e-Government & Applications

Berita Terbaru


Get Widget